Ryan Coogler Ungkap Alur Asli ‘Black Panther 2’ yang Tak Jadi Dipakai

21
Sumber: Showtime Showdown

Film Black Panther yang rilis pada 2018 bukan cuma sukses besar di bioskop, tapi juga jadi salah satu titik penting dalam sejarah film superhero. Wakanda berubah menjadi simbol kebanggaan budaya, sementara Chadwick Boseman sebagai T’Challa dipandang sebagai pahlawan yang menginspirasi banyak orang. Karena itu, waktu Marvel mengumumkan akan membuat sekuelnya, antusiasme penonton langsung melonjak. Namun, di balik film yang akhirnya diberi judul Black Panther: Wakanda Forever, ternyata ada cerita lain yang tidak banyak diketahui. Ryan Coogler, sang sutradara sekaligus penulis naskah, mengungkap bahwa ia awalnya menyiapkan plot yang sama sekali berbeda cerita menyentuh tentang hubungan ayah dan anak tetapi pada akhirnya tidak bisa diwujudkan.

Dalam salah satu wawancara, Coogler mengatakan bahwa versi awal film ini sebenarnya tidak berfokus pada kesedihan. Ia ingin menceritakan pergulatan batin T’Challa setelah kembali memimpin Wakanda. Film itu dirancang sebagai perjalanan tentang jati diri bagaimana seorang raja dan pahlawan belajar menjadi seorang ayah. Naskah awal setebal hampir 180 halaman itu memperkenalkan tradisi kuno Wakanda bernama Ritual of Eight. Dalam tradisi ini, ayah dan anak laki-laki harus menghabiskan delapan hari bersama di alam terbuka, tanpa teknologi, tanpa penjaga, dan tanpa kemewahan istana. Mereka hanya boleh saling berbicara dengan jujur. Sang anak bebas bertanya apa saja, dan sang ayah harus menjawab terus terang. Coogler ingin menunjukkan sisi manusiawi T’Challa bahwa di balik kostum vibranium, ia adalah seseorang yang sedang belajar memahami tanggung jawabnya.

Sumber: Variety

Di tengah ritual tersebut, konflik besar muncul. Namor dan bangsanya datang membawa ancaman yang rumit, bukan hanya soal pertempuran, tetapi juga terkait politik, sejarah, dan perebutan kekuatan. T’Challa berada dalam posisi sulit bila ia menghentikan ritual, ia melanggar tradisi penting yang menjadi dasar kepemimpinannya. Tetapi jika terus melanjutkannya, keselamatan Wakanda terancam. Di sinilah ketegangan utama cerita seorang raja harus menjaga negaranya, sementara seorang ayah ingin tetap ada untuk anaknya. Melalui situasi ini, sang anak belajar langsung bahwa menjadi pemimpin tidak selalu terlihat hebat, karena di baliknya ada banyak pengorbanan.

Coogler mengatakan bahwa naskah versi awal ini adalah salah satu karya yang paling ia banggakan. Di benaknya, film tersebut dipenuhi momen-momen tenang namun emosional, obrolan di dekat api unggun, cerita masa kecil, ketakutan yang jarang diakui seorang pahlawan, sampai pertanyaan polos seorang anak yang menyinggung sisi rapuh T’Challa. Di balik suasana intim itu, ia juga menyiapkan adegan aksi besar khas MCU. Tujuannya sederhana membuat film superhero yang tetap megah, tapi terasa dekat dan personal sebuah kombinasi yang jarang terjadi.

Namun kenyataan berkata lain. Chadwick Boseman, yang selama ini diam-diam berjuang melawan penyakit, tidak sempat membaca naskah itu sampai selesai. Berita wafatnya pada 2020 menjadi pukulan berat bagi seluruh tim. Bagi Coogler, kepergian Boseman bukan sekadar kehilangan pemeran utama, melainkan sahabat sekaligus partner kreatif yang “menghidupkan” T’Challa. Ia bahkan sempat berpikir untuk mundur dari proyek ini. Tapi setelah banyak berdiskusi dengan produser dan para pemain, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan bukan hanya untuk menuntaskan film, melainkan sebagai bentuk penghormatan untuk Boseman.

Keputusan besar pun diambil Marvel tidak akan mengganti T’Challa dengan aktor lain. Konsekuensinya, naskah harus diubah hampir sepenuhnya. Cerita lalu bergeser menjadi refleksi tentang kehilangan. Shuri mengambil peran utama, sementara Wakanda digambarkan sebagai bangsa yang berduka namun berusaha berdiri kembali di tengah ancaman Namor. Perubahan ini membuat Wakanda Forever terasa lebih suram, tapi juga lebih tulus seolah-olah kesedihan para karakter benar-benar mencerminkan perasaan para pemain dan penonton.

Sumber: Variety

Meski begitu, sebagian ide lama Coogler tetap “terselip”. Dalam adegan pasca-kredit, muncul karakter Toussaint putra T’Challa. Kehadirannya memberi harapan sekaligus isyarat bahwa tema ayah-anak mungkin akan kembali, tapi lewat generasi baru. Artinya, warisan T’Challa tidak “diganti”, melainkan diteruskan.

Jika dibandingkan, perbedaan antara naskah asli dan film yang rilis sangat terasa. Versi awal lebih fokus pada pergulatan batin T’Challa soal identitas, tanggung jawab, dan moralitas. Sedangkan versi final menyoroti kesedihan bersama, politik global, dan perjalanan Shuri dalam belajar melepaskan. Keduanya sama-sama kuat, hanya lahir dari situasi yang berbeda. Demi menghormati Boseman, Marvel memilih arah yang lebih etis dan emosional.

Coogler mengakui bahwa ia masih menyukai naskah lama tersebut. Ia menyebutnya “gila” dalam arti sangat menantang dan emosional. Tapi ia juga sadar, film yang sekarang tayang menghadirkan kejujuran yang berbeda. Wakanda Forever bukan sekadar hiburan ia menjadi cara bagi semua orang untuk berduka. Mungkin Coogler kehilangan kesempatan membuat film superhero bertema ayah-anak yang unik, tetapi ia berhasil menyampaikan pesan kehilangan yang dirasakan banyak orang.

Bagi MCU, kisah ini menunjukkan bahwa rencana sebesar apa pun bisa berubah. Marvel, yang biasanya sangat rapi dengan timeline dan skenario jangka panjang, akhirnya harus menyesuaikan diri dengan kenyataan. Hasilnya, lahirlah film yang terasa lebih manusiawi. Ini membuktikan bahwa proses kreatif bukan hanya soal strategi franchise, tetapi juga empati.

Reaksi penggemar pun beragam. Ada yang penasaran seperti apa jadinya versi “ayah-anak” itu jika jadi difilmkan. Ada juga yang merasa keputusan Marvel sudah tepat karena mengingatkan bahwa bahkan pahlawan pun bisa pergi. Diskusi pun ramai di internet, membahas setiap detail cerita yang Coogler ungkapkan. Yang jelas, kisah naskah yang tak jadi dipakai ini membuat Wakanda Forever terasa punya lapisan makna tambahan.

Sumber: SlashFilm

Perubahan naskah juga mempengaruhi para aktor. Letitia Wright harus membawa beban emosional lebih besar sebagai Shuri. Sementara itu, Tenoch Huerta mendapat karakter Namor yang kompleks bukan sekadar musuh, melainkan pemimpin dengan sejarah dan luka sendiri. Semua perubahan ini menunjukkan bahwa keputusan kreatif setelah kepergian Boseman tidak pernah sederhana.

Secara industri, cerita ini menggambarkan betapa rapuh dan tidak terduganya proses pembuatan film. Satu kejadian nyata bisa membelokkan arah cerita sepenuhnya. Tapi pada saat yang sama, ia menunjukkan ketangguhan sutradara dalam beradaptasi. Alih-alih menutup mata, Coogler justru memasukkan rasa kehilangan itu ke dalam cerita sehingga film terasa jujur.

Jika Boseman masih ada, kemungkinan besar Black Panther 2 akan menjadi film reflektif tentang ayah dan anak belajar memikul tanggung jawab bersama. Namun karena nasib berkata lain, film ini berubah menjadi surat perpisahan sekaligus penghormatan. Kita belajar bahwa terkadang, cerita besar dibentuk oleh hal-hal yang terjadi di luar skenario.

Pada akhirnya, Coogler membuktikan bahwa keberanian seorang pembuat film bukan hanya tampak pada adegan spektakuler, tetapi pada keberaniannya menghormati orang yang telah pergi. Naskah asli mungkin tidak akan pernah tayang, namun kisah di baliknya membuat Wakanda Forever terasa lebih berarti. Warisan T’Challa tetap hidup bukan hanya lewat karakter, tetapi lewat cara film ini merayakan sisi manusiawi para pahlawan. Wakanda, benar-benar, selamanya.