Teyana Taylor Menang Golden Globes, Sebut Crystal Thong sebagai ‘Party in the Back’ di Momen Emosional

17
Sumber: WWD

Teyana Taylor menciptakan salah satu momen paling berkesan dalam sejarah Golden Globe Awards 2026, bukan hanya karena ia membawa pulang piala kemenangan, tetapi juga karena cara ia mengekspresikan emosi, identitas, dan keberaniannya di atas panggung. Dalam ajang penghargaan film dan televisi yang digelar di Beverly Hilton, Beverly Hills, Taylor dinobatkan sebagai Best Supporting Actress berkat penampilannya yang memukau sebagai Perfidia Beverly Hills dalam film One Battle After Another.

Kemenangan tersebut disambut dengan luapan emosi yang tulus, menjadikan momen itu terasa begitu personal dan menyentuh. Namun sorotan publik malam itu tidak berhenti pada prestasi aktingnya saja. Taylor juga menjadi pusat perhatian karena cara uniknya merayakan kemenangan tersebut, termasuk saat ia dengan santai dan jenaka menyinggung detail busananya, sebuah crystal thong yang berkilau di bagian belakang gaunnya, yang ia sebut sebagai “party in the back”. Perpaduan antara air mata, humor, dan pernyataan gaya itulah yang membuat penampilannya di Golden Globes langsung viral dan sulit dilupakan.

Sumber: Page Six

Jauh sebelum piala Golden Globes dibagikan, Teyana Taylor sudah lebih dulu mencuri perhatian lewat penampilannya di karpet merah. Di Golden Globes 2026, ia melangkah dengan percaya diri mengenakan gaun hitam haute couture rancangan Schiaparelli yang langsung menjadi pusat sorotan kamera dan pembicaraan media. Desain busana tersebut tampil sangat berani dan artistik, terutama di bagian belakang yang menampilkan potongan dramatis dengan sentuhan crystal-encrusted thong yang berkilau dan tak biasa untuk ajang penghargaan formal.

Gaun itu diperkuat dengan detail halter drapery yang menjuntai anggun, potongan terbuka di punggung, serta taburan aksesori berlian yang memantulkan cahaya lampu karpet merah. Kombinasi elemen tersebut menciptakan siluet yang kuat, sensual, sekaligus futuristik menjadikannya salah satu busana paling mudah dikenali dan paling banyak diperbincangkan malam itu. Bahkan para host red carpet sempat menyebut bagian belakang gaun tersebut sebagai “party in the back”, sebuah ungkapan ringan yang kemudian diadopsi sendiri oleh Taylor saat ia naik ke panggung untuk menerima penghargaan.

Sumber: gettyimages

Pilihan gaya ini menuai respons yang beragam. Banyak pengamat mode memuji Taylor karena keberaniannya menentang norma dan membawa ekspresi personal ke dalam fashion penghargaan. Di sisi lain, sebagian warganet menganggap tampilannya terlalu provokatif dan jauh dari pakem klasik red carpet. Perbedaan pendapat itulah yang justru membuat penampilan Taylor semakin viral, memicu diskusi hangat di media sosial dan memperkuat statusnya sebagai salah satu ikon gaya paling berani di Golden Globes tahun ini.

Setelah hiruk-pikuk red carpet dan sorotan kamera mereda, tibalah momen paling menentukan bagi Teyana Taylor di Golden Globe Awards 2026. Namanya dipanggil sebagai pemenang Best Supporting Actress in a Motion Picture, mengungguli deretan artis papan atas seperti Emily Blunt, Elle Fanning, Ariana Grande, Inga Ibsdotter Lilleaas, dan Amy Madigan sebuah pencapaian besar yang menegaskan posisinya di jajaran aktris terbaik tahun ini.

Reaksi Taylor pun mencerminkan betapa tak terduganya kemenangan itu baginya. Wajahnya langsung dipenuhi emosi, matanya berkaca-kaca, dan suaranya terdengar bergetar saat ia melangkah ke podium. Sesaat ia tampak berusaha menenangkan diri sebelum berbicara, seolah masih sulit mempercayai bahwa namanya benar-benar telah disebut sebagai pemenang. Momen tersebut menjadi semakin berkesan karena menandai Golden Globe pertama dalam perjalanan kariernya, sekaligus simbol pengakuan resmi industri terhadap transformasinya sebagai seorang aktris serius.

Pidato penerimaan Teyana Taylor dengan cepat menjadi salah satu momen paling berkesan di Golden Globes 2026. Ia memulainya dengan sentuhan humor khas dirinya, berputar sejenak untuk menampilkan bagian belakang gaunnya sambil berseloroh, “Wait, see my party in the back!”. Tawa ringan pun pecah di ruangan, sejenak meredakan suasana haru yang masih menyelimuti dirinya.

Namun di balik candaan itu, Taylor segera membawa hadirin ke dalam momen yang jauh lebih mendalam. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah menopangnya selama perjalanan panjang karier dan hidupnya, keluarganya, sahabat-sahabatnya, tim kreatif yang selalu percaya padanya, serta Paul Thomas Anderson, sang sutradara yang memberinya kepercayaan untuk memerankan karakter kompleks dalam One Battle After Another.

Sumber: gettyimages

Pidato tersebut kemudian berubah menjadi pernyataan yang sarat makna sosial. Taylor secara khusus menyapa “brown sisters and little brown girls” yang menyaksikan dari rumah, menyampaikan pesan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Dengan kalimat “Our softness is not a liability”, ia menegaskan bahwa kepekaan, empati, dan keunikan justru adalah kekuatan yang pantas mendapat ruang dan pengakuan di setiap panggung dan industri.

Kata-kata itu langsung menggema luas di media sosial, mengubah pidato Taylor menjadi lebih dari sekadar ungkapan terima kasih. Ia menjelma menjadi sebuah deklarasi tentang representasi, keberanian, dan harapan menyentuh banyak orang yang selama ini merasa terpinggirkan, sekaligus mengingatkan bahwa industri hiburan masih memiliki ruang untuk suara-suara yang autentik dan penuh cahaya.

Kemenangan ini memiliki arti yang jauh melampaui sekadar trofi Golden Globe pertama dalam hidup Teyana Taylor. Penghargaan tersebut datang di fase penting kariernya, ketika ia berada di titik paling matang sebagai seorang kreator multidisiplin seorang aktris, musisi, penari, sekaligus sutradara yang terus mendorong batas kemampuannya sendiri. Selama bertahun-tahun, Taylor dikenal sebagai sosok yang tidak pernah takut mengambil risiko, baik dalam pilihan peran, ekspresi artistik, maupun cara ia menampilkan dirinya di ruang publik.

Lewat One Battle After Another, Taylor menghidupkan karakter Perfidia Beverly Hills dengan intensitas dan kompleksitas yang jarang terlihat. Sosok revolusioner yang ia perankan bukan hanya penuh konflik, tetapi juga sarat luka, harapan, dan keberanian sebuah tantangan akting yang menuntut penguasaan emosi dan kedalaman psikologis. Apresiasi yang ia terima tidak muncul semata karena ia menang, melainkan karena performanya dinilai benar-benar sejajar dengan deretan artis papan atas lain dalam kategori tersebut. Peran ini memperkuat posisinya bukan hanya sebagai entertainer, tetapi sebagai aktris serius yang kini diakui di panggung tertinggi industri film.

Sumber: gettyimages

Kemenangan Teyana Taylor di Golden Globe Awards 2026 menjadi simbol dari sebuah perjalanan panjang yang akhirnya mencapai pengakuan di panggung tertinggi industri hiburan. Dari langkah pertamanya di karpet merah dengan busana yang berani, hingga momen ketika ia berdiri di atas panggung dengan mata berkaca-kaca sambil memegang piala emas, setiap detik malam itu merepresentasikan keteguhan seorang seniman yang menolak untuk dibatasi oleh satu identitas saja.

Lebih dari sekadar trofi, kemenangan ini adalah validasi atas kerja keras, ketekunan, dan keberanian Taylor dalam mengekspresikan diri, baik melalui akting, musik, maupun gaya personalnya. Pidatonya yang penuh emosi dan pesan tentang kelembutan, representasi, serta ruang bagi perempuan kulit berwarna, menjadikan malam itu terasa lebih besar daripada sekadar ajang penghargaan. Ia mengubah panggung Golden Globes menjadi ruang pernyataan, harapan, dan inspirasi bagi banyak orang yang melihat diri mereka di dalam kisahnya.

Dan tentu saja, di tengah semua kedalaman makna itu, sentuhan khas Teyana Taylor tetap hadir, sebuah “party in the back” yang menjadi simbol bagaimana ia mampu memadukan keberanian, humor, dan kejujuran dalam satu momen yang ikonik. Golden Globes 2026 bukan hanya akan dikenang sebagai malam kemenangannya, tetapi sebagai titik di mana Teyana Taylor sepenuhnya mengukuhkan dirinya sebagai seniman berpengaruh di layar, di panggung, dan di budaya pop global.