Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi ingin terlihat paling tahu. Bukan karena menyerah, bukan juga karena kehilangan arah, tetapi karena akhirnya sadar bahwa tidak semua hal harus segera punya jawaban. Di fase itulah Pamungkas hari ini berdiri. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai musisi yang intens, ekspresif, dan kerap membungkus kegelisahan menjadi lagu, ia kini terdengar lebih pelan, lebih tenang, dan mungkin lebih manusia.
Dalam wawancara bersama The Rockin Life, Pamungkas bercerita tentang fase barunya sebagai seseorang yang sedang belajar memperlambat banyak hal. Ketika bicara tentang “New Pamungkas”, ia tidak menjawab dengan formula besar atau pernyataan megah. Justru yang muncul adalah kesadaran sederhana: dua tahun terakhir mengajarkannya untuk slow things down. Memasuki usia 30-an, ada semacam ketidakpedulian yang muncul, tetapi bukan dalam arti tidak peduli pada hidup. Lebih tepatnya, ia mulai tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.
Dulu, Pamungkas seakan selalu ingin tahu jawabannya. Ingin mengerti apa yang sedang terjadi, ingin bisa menjelaskan kenapa sesuatu terasa rumit, dan ingin punya kendali atas segala kekacauan. Sekarang, ketika tidak tahu, ia bisa menerima bahwa tidak tahu juga bagian dari proses. “Kalau enggak tahu, enggak apa-apa”, begitu kira-kira semangat yang ia bawa hari ini.
Namun, perubahan itu tidak membuat Pamungkas kehilangan karakter lamanya. Ia masih mengaku sebagai orang yang sulit diberi tahu. Ia masih tipe manusia yang perlu mengalami sendiri, bahkan harus mentok dulu, sebelum akhirnya bisa memahami sesuatu. Bedanya, kini ada ruang yang lebih luas untuk menerima proses tersebut. Ia tidak lagi sekadar mengejar kepastian, tetapi mulai belajar mendengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya.
Fase baru ini juga tidak lahir dari ruang kosong. Ada kehilangan besar yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Pamungkas bercerita tentang dua figur penting yang pergi dalam waktu berdekatan: ayahnya dan almarhum Hari Budiman, sosok yang sejak kecil dikenalkan sang ayah kepadanya. Hari Budiman bukan hanya guru musikal, tetapi juga teman bicara, mentor, bahkan cermin kehidupan.
Seiring bertambahnya usia, hubungan itu tumbuh dari relasi guru dan murid menjadi percakapan yang lebih dalam. Mereka bisa bicara tentang musik, hidup, percintaan, bahkan hal-hal random yang hanya mungkin muncul dalam obrolan panjang antara dua orang yang saling percaya. Kepergian Hari Budiman, lalu disusul kepergian ayahnya hampir sebulan kemudian, meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah dijelaskan.
Pamungkas menggambarkan fase setelah kehilangan itu seperti sedang “dikuliti sebagai manusia”. Banyak lapisan yang sebelumnya tidak terlihat tiba-tiba muncul ke permukaan. Ketika dua figur yang biasa menjadi tempat melihat, bertanya, atau sekadar merasa aman sudah tidak ada, hidup memaksanya untuk berhadapan langsung dengan dirinya sendiri.
Dari ruang itulah lagu “Berapa Kali Kita Saling Memaafkan” terasa penting. Lagu ini bukan sekadar tentang hubungan romantis, meski pendengar mungkin bisa membacanya ke arah sana. Di balik pertanyaannya, ada usaha untuk memahami bahwa memaafkan tidak selalu datang dengan jawaban yang utuh. Kadang, justru karena tidak ada jawaban, pertanyaan itu perlu terus diajukan.
Bagi Pamungkas, lagu tersebut lahir dari keadaan yang menuntut keikhlasan. Menariknya, keikhlasan yang ia maksud bukan selalu berarti pergi atau mengakhiri sesuatu. Ada situasi ketika manusia tetap harus bersama, tetap harus berjalan berdampingan, meski ada luka, perbedaan, atau hal-hal yang menjengkelkan. Tidak semua konflik harus diselesaikan dengan perpisahan. Kadang, solusinya adalah belajar menerima bahwa manusia lain memang tidak akan pernah sepenuhnya bisa kita kendalikan.
Di titik ini, “Berapa Kali Kita Saling Memaafkan” terdengar bukan sebagai bentuk menyerah, melainkan sebagai cara beradaptasi. Pamungkas melihatnya sebagai usaha untuk menerima perbedaan. Ia pernah banyak membicarakan soal perbedaan dalam album Solipsism, ketika ia menyadari bahwa setiap orang merasa dirinya benar. Yang biru merasa benar sebagai biru, yang kuning merasa benar sebagai kuning. Tidak ada yang sepenuhnya salah, tetapi juga tidak ada yang sepenuhnya bisa memonopoli kebenaran.
Kini, pemahaman itu terasa lebih matang. Jika dulu perbedaan mungkin terdengar seperti konsep yang menarik untuk dibedah, sekarang ia menjadi pengalaman yang harus dijalani. Memaafkan bukan lagi sekadar tema lagu, melainkan mekanisme bertahan hidup. Cara untuk tetap waras ketika kenyataan tidak bergerak sesuai keinginan.
Album terbaru Pamungkas pun tampaknya akan bergerak dari ruang batin yang berbeda. Ia menyebut tujuh tahun terakhir sebagai fase mengelola kecemasan. Dari album pertama sampai album kelima, musik menjadi kendaraan untuk menaiki tornado hidupnya. Ada kekacauan, putaran, dan rasa tidak stabil, tetapi ia terus mencoba bertahan di dalamnya. Bahkan di fase Hardcore Romance, ia sudah sampai pada titik bisa bersenang-senang meski sedang dihantam hidup.
Namun, album berikutnya bukan lagi tentang berputar bersama tornado. Pamungkas menggambarkannya seperti tersentil ke bagian tengah pusaran. Bukan keluar dari kekacauan, melainkan masuk lebih dalam ke pusatnya. Di luar sana mungkin masih ribut, masih kacau, masih penuh hal yang tidak bisa dikendalikan. Tetapi di tengahnya, ia menemukan ruang kecil yang tenang.
Ada rasa damai yang aneh di sana. Bukan damai karena hidup sudah selesai, melainkan damai karena akhirnya bisa diam di tengah ketidakpastian. Ada level ketenangan tertentu, juga semacam kepolosan baru dalam melihat hidup. Seolah ia akhirnya bisa berkata, “Oh, jadi begini rasanya”, lalu tetap duduk di sana tanpa harus buru-buru kabur.
Apakah ini berarti album terbarunya akan menjadi closure? Mungkin tidak sesederhana itu. Closure sering dibayangkan sebagai pintu yang tertutup rapi, sebagai akhir yang membuat semua luka selesai. Tetapi bagi Pamungkas, fase ini lebih terasa seperti menemukan cara baru untuk tinggal bersama luka, bukan menutupnya paksa. Ia tidak sedang menghapus masa lalu, melainkan belajar hidup dengan bentuk dirinya yang sekarang.
Jika Hardcore Romance adalah album yang paling dekat dengan energi barunya, maka karya berikutnya mungkin akan memperlihatkan sisi Pamungkas yang lebih sunyi, lebih jujur, dan lebih menerima. Bukan berarti ia kehilangan intensitas, tetapi intensitas itu kini punya bentuk lain. Tidak selalu meledak, tidak selalu ingin menjawab, tidak selalu ingin menang. Kadang, ia cukup hadir.
Pada akhirnya, ketika ditanya ingin dikenang sebagai apa, Pamungkas tidak menjawab ingin dikenang sebagai musisi besar, penulis lagu penting, atau sosok yang mengubah skena musik Indonesia. Ia hanya ingin dikenang sebagai teman. Teman yang baik.
Jawaban itu terasa sederhana, tetapi justru merangkum banyak hal tentang Pamungkas hari ini. Setelah kehilangan, kecemasan, cinta, perbedaan, dan berbagai pusaran hidup, mungkin yang paling ia cari bukan lagi validasi besar. Mungkin yang ia inginkan hanya menjadi manusia yang cukup baik untuk hadir bagi orang lain. Dan dari sana, musiknya terasa bergerak menuju tempat yang lebih tenang: bukan lagi sekadar mencari jawaban, tetapi belajar berdamai dengan pertanyaan.
Untuk memahami fase terbaru Pamungkas lebih utuh, tonton wawancara lengkapnya dalam episode “PAMUNGKAS, THE CALM AFTER THE CHAOS | TRL ICON” di YouTube The Rockin Life.








