Doa Setelah Sholat Taubat Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Urutannya

10
doa setelah sholat taubat
doa setelah sholat taubat

Setelah menyelesaikan tata cara sholat taubat yang terdiri dari dua rakaat, banyak orang bertanya: “Apa yang harus saya baca setelah salam?” Jawabannya, tidak ada satu doa wajib tunggal yang harus dibaca setelah sholat taubat. Islam memberikan kebebasan dan keluasan dalam berdoa, asalkan doa tersebut sesuai dengan tujuan taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Penjelasan mengenai dasar sholat ini juga dapat dibaca dalam panduan MUI.

Secara umum, doa setelah sholat taubat mencakup tiga komponen utama: istighfar yang berulang-ulang, doa taubat dari Al-Quran dan hadis, serta permohonan khusus sesuai dosa yang dilakukan. Urutan pembacaannya tidak baku, namun dianjurkan untuk dimulai dengan istighfar, dilanjutkan dengan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan diakhiri dengan doa pribadi dalam bahasa yang Anda pahami.

Istighfar: Bacaan Pertama Setelah Sholat Taubat

tangan berdoa dengan tasbih saat membaca istighfar

Tidak ada jumlah istighfar yang wajib secara khusus setelah sholat taubat. Bacalah sesuai kemampuan dengan penuh pemahaman, penyesalan, dan kesungguhan hati.33 kali atau lebih, sesuai dengan kekhusyukan dan kesungguhan hati.

Bacaan istighfar yang paling utama adalah bacaan Sayyidul Istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’udzu bika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu’u laka bi dzanbi, faghfir lii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu sekuat kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Hadis dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkannya di waktu pagi dengan yakin, lalu meninggal pada hari itu sebelum petang, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di waktu petang dengan yakin, lalu meninggal pada malam itu sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 6306 dan Muslim no. 2709).

Doa Taubat Nabi Adam AS (QS Al-A’raf: 23)

ayat Al-Qur'an sebagai bacaan doa taubat Nabi Adam

Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang melakukan taubat setelah melanggar larangan Allah SWT di surga. Doanya menjadi pelajaran bahwa taubat sejati selalu diawali dengan pengakuan dosa:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasirin.”
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah berbuat zalim terhadap diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Doa ini mengajarkan bahwa manusia sering kali “berbuat zalim” terhadap dirinya sendiri melalui dosa-dosa yang dilakukan. Tanpa ampunan dan rahmat Allah, manusia akan merugi di dunia dan akhirat.

Doa Taubat Nabi Yunus AS (QS Al-Anbiya: 87)

langit malam sebagai simbol doa Nabi Yunus dalam kesulitan

Ketika Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan paus, ia bertobat dengan doa yang sangat terkenal:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin.”
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Rasulullah SAW bersabda: “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus adalah: ‘Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin.’ Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa itu dalam suatu keadaan apa pun, melainkan Allah akan memperkenankannya.” (HR. Tirmidzi no. 3505, hasan shahih).

Doa Taubat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

Al-Qur'an terbuka untuk membaca doa memohon ampun

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, pernah meminta Rasulullah SAW untuk mengajarkan doa yang dapat ia baca di dalam sholatnya. Nabi SAW pun mengajarkan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Allahumma inni zhalamtu nafsi zhalman katsiiran, wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfir lii maghfiratan min ‘indika, warhamni innaka antal ghafuurur rahiim.”
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku sendiri dengan zalim yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku ampunan yang datang dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)

Doa ini sangat relevan untuk dibaca setelah sholat taubat karena mencakup pengakuan dosa, pengakuan keesaan Allah sebagai pengampun, dan permohonan ampunan serta rahmat secara khusus.

Doa Taubat Ali bin Abi Thalib RA

seorang Muslim bermuhasabah di dalam masjid

Dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW mengajarkan doa taubat yang sangat indah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَسِّعْ لِيْ فِيْ دَارِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا رَزَقْتَنِيْ
“Allahummaghfir lii dzanbi, wa wassi’ lii fii daari, wa baarik lii fiima razaqtanii.”
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosaku, lapangkanlah rumahku, dan berkahilah apa yang Engkau karuniakan kepadaku.” (HR. Abu Dawud no. 1517, hasan)

Doa ini tidak hanya meminta ampunan, tetapi juga memohon kelapangan hidup dan keberkahan rezeki, menunjukkan bahwa taubat membawa kebaikan di seluruh aspek kehidupan.

Doa Taubat dari QS Ali Imran: 135

Al-Qur'an dan tasbih untuk memahami ayat tentang taubat

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلَىٰ مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Walladziina idzaa fa’aluu faahisyatan au zhalamuu anfusahum dzakarullaaha fastaghfaruu lidzunuubihim wa mayyaghfirudz dzunuuba illaallaahu wa lam yusirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun.”
Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Ayat ini menjadi rujukan penting karena menyebutkan syarat taubat diterima: mengakui dosa, memohon ampunan, dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Doa Taubat dari QS At-Tahrim: 8

membaca Al-Qur'an tentang taubat nasuha

Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا تُوْبُوْا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا
“Yaa ayyuhalladziina aamanuu tuubuu ilallaahi tawbatan nashuuhaa.”
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang nasuha (murni).” (QS. At-Tahrim: 8)

Taubat nasuha adalah taubat yang tulus, tidak setengah-setengah, dan dilakukan dengan kesungguhan hati untuk meninggalkan dosa selamanya.

Urutan Membaca Doa Setelah Sholat Taubat

Al-Qur'an, lentera, dan tasbih untuk urutan dzikir setelah taubat

Agar doa setelah sholat taubat lebih terstruktur dan khusyuk, berikut urutan yang dianjurkan:

No Bacaan Jumlah / Durasi Sumber
1 Istighfar umum (Astaghfirullah) Sesuai kemampuan Sunnah umum
2 Sayyidul Istighfar Sesuai kemampuan HR. Bukhari & Muslim
3 Doa taubat Nabi Adam AS (QS Al-A’raf: 23) Sesuai kemampuan Al-Quran
4 Doa taubat Nabi Yunus AS (QS Al-Anbiya: 87) Sesuai kemampuan HR. Tirmidzi
5 Doa taubat Abu Bakar RA (HR. Bukhari) Sesuai kemampuan HR. Bukhari & Muslim
6 Doa taubat Ali bin Abi Thalib RA Sesuai kemampuan HR. Abu Dawud

Tabel 1: Contoh pilihan bacaan setelah sholat taubat. Urutan dan jumlahnya bukan ketentuan wajib.

Catatan: Urutan di atas bersifat anjuran, bukan wajib. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan hati.

Doa Pribadi Setelah Bacaan Taubat

tangan menengadah saat menyampaikan doa pribadi

Setelah membaca doa-doa di atas, dianjurkan untuk melanjutkan dengan doa pribadi dalam bahasa yang Anda pahami. Beberapa hal yang bisa dimohonkan:

Ampunan khusus

atas dosa-dosa yang telah dilakukan

Keikhlasan hati

untuk tidak mengulangi dosa tersebut

Kekuatan iman

dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah

Keberkahan

dalam hidup, rezeki, dan keluarga

Perlindungan

dari godaan setan dan perbuatan maksiat di masa depan

Rasulullah SAW bersabda: “Doa paling utama adalah doa pada hari Arafah, dan doa terbaik yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Laa ilaaha illaallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.'” (HR. Tirmidzi no. 3585).

Video: Tata Cara Sholat Taubat Lengkap dengan Teks dan Peraga — IRSSAT Official

Kesalahan Umum Saat Berdoa Setelah Sholat Taubat

seorang Muslim merenungkan kesalahan setelah bertaubat

Berikut kesalahan yang sering terjadi dan perlu dihindari:

Menganggap ada satu doa wajib tunggal

Padahal Islam memberikan keluasan dalam berdoa

Hanya membaca doa tanpa memahami artinya

Sebaiknya pahami makna setiap bacaan agar doa lebih khusyuk

Tidak dilanjutkan dengan perubahan perilaku

Taubat tanpa perubahan bukan taubat nasuha

Berdoa dengan terburu-buru

Doa memerlukan ketenangan dan kekhusyukan

Tidak memohon ampunan atas dosa spesifik

Sebutkan dosa yang ingin diampuni agar taubat lebih tulus

Mengabaikan waktu mustajab

Doa setelah sholat, terutama di waktu dhuha atau malam, lebih utama

Tidak istiqamah setelah taubat

Taubat adalah awal, bukan akhir dari perjalanan spiritual

Waktu Terbaik untuk Sholat Taubat dan Berdoa

jam dan lentera sebagai gambaran waktu terbaik sholat taubat

Meskipun sholat taubat bisa dilakukan kapan saja, ada waktu-waktu yang lebih utama:

Setelah melakukan dosa besar

Segera bertobat tanpa menunda

Di waktu dhuha (08.00–11.00)

Waktu mustajab untuk berdoa

Di sepertiga malam terakhir

Waktu turunnya rahmat Allah

Setelah sholat fardhu

Khususnya setelah sholat Subuh, Maghrib, dan Isya

Di hari Jumat

Hari yang penuh keberkahan

Menurut panduan NU Online, sholat taubat sebaiknya tidak dilakukan pada waktu terlarang sholat sunnah, yaitu setelah sholat Subuh hingga matahari terbit, setelah sholat Ashar hingga matahari terbenam, dan saat matahari tepat di tengah langit (zawal).

Istiqamah Setelah Taubat: Dari Doa ke Tindakan

berdoa saat fajar sebagai simbol istiqamah setelah taubat

Taubat yang sempurna bukan hanya soal doa, tetapi juga perubahan nyata. Berikut langkah istiqamah setelah sholat taubat: Baca juga perjalanan spiritual yang berkelanjutan.

Tinggalkan dosa secara total

Hindari lingkungan, teman, atau media yang memicu dosa

Perbanyak amal shaleh

Gantikan dosa dengan kebaikan seperti sedekah, puasa sunnah, atau membaca Al-Quran

Jaga sholat lima waktu

Sholat fardhu adalah fondasi iman yang harus dijaga

Bergaul dengan orang shaleh

Lingkungan positif membantu menjaga istiqamah

Rutin sholat sunnah

Selain taubat, kerjakan sunnah rawatib, dhuha, dan tahajud

Muhasabah diri secara rutin

Evaluasi diri setiap hari sebelum tidur

Baca Al-Quran dan dzikir

Isi waktu luang dengan ibadah agar tidak terjerumus kembali

Kesimpulan

seorang Muslim berdoa setelah sholat taubat dengan tenang

Doa setelah sholat taubat tidak terbatas pada satu bacaan wajib. Anda bebas memilih dari berbagai doa yang telah diajarkan oleh Al-Quran dan hadis, seperti Sayyidul Istighfar, doa Nabi Adam AS, Nabi Yunus AS, Abu Bakar RA, dan Ali bin Abi Thalib RA. Yang terpenting adalah keikhlasan hati, pemahaman makna doa, dan komitmen untuk tidak mengulangi dosa — karena taubat nasuha adalah taubat yang tulus dan berkelanjutan.