Pernah memilih tontonan karena trailernya penuh ledakan, lalu setengah jam kemudian malah sibuk melihat ponsel? Daftar film action 2025 memang panjang, tetapi tidak semuanya punya cerita, ritme, dan adegan laga yang sama kuat. Ada yang menjual stunt besar, ada yang lebih tajam lewat intrik, dan ada pula yang terasa seru justru karena tidak terlalu serius.
Supaya kamu tidak berhenti pada poster dan nama besar, daftar ini menyaring film yang benar-benar pertama kali dirilis pada 2025. Penilaiannya menggabungkan kualitas aksi, kekuatan cerita, respons kritikus dan penonton, serta keunikan pengalaman menonton. Saat butuh genre yang lebih ringan setelah maraton laga, kamu juga bisa menyimpan daftar film komedi romantis sebagai watchlist berikutnya.
Pilihan di bawah mencakup balapan, mata-mata, perang, superhero, gun-fu, kriminal, animasi, sampai film Indonesia. Sinopsis dibuat tanpa spoiler besar, sementara platform menonton dicantumkan hanya saat halaman resminya dapat diverifikasi untuk pengguna Indonesia.
Poin Utama
- Rilis terverifikasi: hanya judul yang pertama kali hadir pada 2025.
- Penilaian seimbang: aksi bukan satu-satunya dasar; cerita dan karakter tetap dihitung.
- Pilihan beragam: dari blockbuster sampai thriller lokal yang lebih dekat dengan konteks Indonesia.
- Akses legal: katalog streaming diperiksa untuk wilayah Indonesia per tanggal pembaruan.
- Bebas spoiler: setiap rekomendasi fokus pada premis dan pengalaman menonton.
Pilihan Film Laga Terbaik 2025 dalam Satu Tabel

Pilihan paling aman untuk mayoritas penonton adalah F1, Mission: Impossible – The Final Reckoning, Thunderbolts*, Black Bag, Warfare, dan Ballerina. Keenamnya menawarkan jenis ketegangan yang berbeda, jadi film terbaik tetap bergantung pada sensasi yang sedang kamu cari.
| Judul | Subgenre | Kekuatan Utama | Paling Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| F1 | Balapan, drama olahraga | Desain suara dan sensasi kecepatan | Tontonan layar besar yang mudah dinikmati |
| Mission: Impossible – The Final Reckoning | Espionase | Stunt praktis dan skala misi | Penggemar aksi blockbuster |
| Thunderbolts* | Superhero | Dinamika karakter antihero | Penonton MCU yang ingin tone berbeda |
| Black Bag | Spy thriller | Intrik, dialog, dan permainan kepercayaan | Penonton yang suka aksi cerdas |
| Warfare | Perang | Ketegangan realistis dan desain suara | Penggemar film perang intens |
| Ballerina | Gun-fu, revenge | Koreografi laga dan dunia John Wick | Penonton yang mencari aksi stylish |
Tabel ini sengaja tidak mengurutkan film hanya dari rating. Daftar Rotten Tomatoes berguna untuk melihat konsensus kritikus, tetapi film dengan skor tertinggi belum tentu paling pas untuk penonton yang menginginkan aksi nonstop atau tontonan santai.
Bagaimana Daftar Ini Dipilih?
Setiap judul dinilai melalui lima komponen: kualitas adegan laga, kekuatan cerita dan karakter, respons kritikus, respons penonton, serta keunikan pengalaman menonton. Framework ini membuat film beranggaran besar tidak otomatis berada di atas karya yang lebih kecil dan fokus.
- Kualitas aksi — 30 persen
Koreografi, stunt, editing, desain suara, dan kejernihan visual mendapat bobot terbesar. Adegan ramai tidak selalu efektif; penonton tetap perlu memahami siapa melakukan apa dan mengapa situasinya berbahaya.
- Cerita dan karakter — 25 persen
Aksi terasa lebih berdampak saat konfliknya punya alasan. Film yang memberi motivasi jelas, hubungan antarkarakter kuat, dan konsekuensi emosional mendapat nilai lebih tinggi.
- Respons kritikus — 20 persen
Konsensus kritikus dipakai untuk melihat kualitas teknis dan naratif secara luas. Skor tidak diperlakukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan satu lapis validasi.
- Respons penonton — 15 persen
Film laga juga harus bekerja sebagai hiburan. Karena itu, kepuasan audiens dan daya tarik rewatch tetap masuk perhitungan.
- Keunikan — 10 persen
Poin tambahan diberikan pada film yang menawarkan bahasa visual, premis, humor, latar, atau bentuk aksi yang tidak terasa seperti salinan judul lain.
Framework ini adalah sintesis editorial The Rockin’ Life, bukan standar industri universal. Platform streaming juga tidak masuk skor kualitas karena katalog bisa berubah dan lebih tepat dipakai sebagai informasi akses.
20 Film Action Terbaik 2025 yang Wajib Ditonton
Dua puluh judul berikut dipilih karena menawarkan pengalaman yang jelas dan mudah dibedakan. Alih-alih membuat salinan generik dari daftar 10 film Action terbaik dunia 2025, ranking ini memasukkan blockbuster, animasi, film streaming, serta dua karya Indonesia dengan alasan pemilihan yang spesifik.
Trailer resmi Thunderbolts* dari channel YouTube Marvel Indonesia memberi gambaran tentang perpaduan humor gelap, konflik personal, dan aksi kelompok yang membuat film ini berbeda dari formula tim superhero biasa.
- F1
F1 menjadi pilihan teratas karena mampu membuat kecepatan terasa fisik tanpa menuntut penonton memahami seluruh aturan Formula 1. Brad Pitt memerankan Sonny Hayes, mantan pembalap yang kembali untuk membantu tim APXGP dan membimbing talenta muda Joshua Pearce yang dimainkan Damson Idris.
Joseph Kosinski memakai pendekatan yang imersif: kamera dekat kokpit, suara mesin agresif, dan ritme balapan yang tetap mudah diikuti. Halaman film resmi mengonfirmasi jajaran utama dan keterlibatan tim kreatif di balik Top Gun: Maverick. Cocok untuk kamu yang ingin spectacle besar, tetapi masih peduli pada hubungan mentor dan rivalitas.
- Mission: Impossible – The Final Reckoning
Ethan Hunt kembali menghadapi ancaman The Entity dalam misi yang membawa konsekuensi dari film-film sebelumnya. Daya tarik terbesarnya tetap sama: Tom Cruise menempatkan tubuhnya di tengah adegan yang biasanya diselesaikan dengan efek digital.
Skala film ini sangat besar, dari pengejaran sampai rangkaian stunt berisiko tinggi. Trade-off-nya, durasi dan beban kontinuitas bisa terasa berat bagi penonton baru. Penggemar franchise akan mendapat pengalaman paling lengkap, sedangkan penonton kasual sebaiknya setidaknya mengingat kembali Dead Reckoning.
- Thunderbolts*
Thunderbolts* mengumpulkan Yelena Belova, Bucky Barnes, Red Guardian, Ghost, John Walker, dan karakter lain yang sama-sama membawa kegagalan masa lalu. Film ini bekerja paling baik saat membiarkan para antihero saling menguji, bukan saat mengejar skala ancaman terbesar.
Jake Schreier memberi ruang untuk rasa sepi, rasa bersalah, dan humor canggung di antara adegan aksi. Halaman Marvel resmi mencatat perilisan 2 Mei 2025 dan jajaran pemeran utamanya. Bagi yang ingin memahami konteks semesta ini dari awal, sejarah film Iron Man bisa jadi bacaan pendamping.
- Black Bag
Black Bag membuktikan film mata-mata tidak harus selalu berlari dari ledakan. Michael Fassbender dan Cate Blanchett menjadi pasangan agen intelijen yang diuji oleh dugaan pengkhianatan, membuat percakapan di meja makan terasa sama berbahayanya dengan operasi lapangan.
Steven Soderbergh menjaga film tetap ramping, dingin, dan penuh detail kecil. Ini pilihan ideal untuk penonton yang suka membaca gestur, kebohongan, dan perubahan loyalitas. Aksinya lebih sedikit daripada Mission: Impossible, tetapi tensinya jauh lebih rapat.
- Warfare
Warfare menempatkan penonton di dalam operasi militer yang berubah menjadi situasi bertahan hidup. Alex Garland dan veteran Ray Mendoza menghindari gaya heroik yang terlalu rapi; kebisingan, kebingungan, dan keputusan kecil justru menjadi sumber ketegangan.
Film ini kuat pada desain suara dan rasa ruang. Kamu dapat merasakan bagaimana sebuah bangunan menjadi perangkap ketika informasi terbatas dan waktu makin sempit. Cocok untuk penggemar film perang realistis, tetapi intensitas kekerasannya jelas bukan untuk tontonan santai.
- Ballerina
Ana de Armas memimpin kisah balas dendam yang berada di dunia John Wick. Eve Macarro dibentuk oleh tradisi Ruska Roma, lalu menggunakan latihan itu untuk memburu orang-orang yang berkaitan dengan masa lalunya.
Kekuatan Ballerina ada pada koreografi jarak dekat, penggunaan properti, dan gaya visual yang langsung dikenali penggemar franchise. Ceritanya tidak selalu sepadat aksinya, tetapi film ini tetap menjadi jawaban paling dekat untuk penonton yang mencari gun-fu stylish dengan protagonis perempuan.
- Havoc
Tom Hardy berperan sebagai polisi yang harus menembus jaringan kriminal setelah transaksi narkoba berakhir kacau. Premisnya sederhana, tetapi Gareth Evans menggunakan situasi itu sebagai ruang untuk membuat aksi brutal, gelap, dan terus bergerak.
Pertarungannya lebih kasar daripada elegan. Kamera mengikuti tubuh yang terlempar, ruangan yang rusak, dan keputusan buruk yang berantai. Cocok bagi penggemar The Raid atau thriller kriminal yang tidak keberatan dengan tone muram dan kekerasan tinggi.
- The Naked Gun
The Naked Gun memberi jeda dari film laga yang terlalu serius. Liam Neeson memainkan Frank Drebin Jr. dengan wajah setenang mungkin, sementara dunia di sekelilingnya dipenuhi lelucon visual, salah paham, dan kekacauan polisi.
Aksinya sengaja menjadi bagian dari punchline. Akiva Schaffer memahami bahwa parodi bekerja saat ritmenya cepat dan film tidak berhenti menjelaskan lelucon. Ini pilihan paling ringan untuk malam ketika kamu ingin tertawa tanpa kehilangan energi genre action.
- Superman
James Gunn membawa Superman versi David Corenswet ke dunia yang sudah dipenuhi pahlawan, konflik politik, dan sorotan publik. Film ini tidak hanya menguji kekuatan fisik Clark Kent, tetapi juga keyakinannya bahwa empati masih layak dipertahankan.
Aksinya besar dan penuh makhluk fantastis, tetapi hubungan Clark, Lois Lane, dan Lex Luthor menjaga cerita tetap punya pusat emosional. Pilihan bagus untuk penonton superhero yang menginginkan tone optimistis tanpa kehilangan konflik.
- The Fantastic Four: First Steps
Film ini memperkenalkan Reed Richards, Sue Storm, Johnny Storm, dan Ben Grimm dalam dunia retro-futuristik yang terasa berbeda dari latar MCU pada umumnya. Ancaman kosmik hadir, tetapi identitas utamanya tetap tentang keluarga.
Pedro Pascal, Vanessa Kirby, Joseph Quinn, dan Ebon Moss-Bachrach membuat dinamika tim terasa hangat sebelum konflik membesar. Efek visual dan desain produksinya menjadi daya tarik utama. Cocok untuk kamu yang suka sci-fi superhero dengan hubungan karakter yang jelas.
- Predator: Killer of Killers
Predator: Killer of Killers memakai animasi untuk membawa pemburu ikonik itu ke beberapa periode sejarah. Struktur antologi membuat tiap segmen punya senjata, budaya bertarung, dan aturan survival sendiri.
Pilihan format animasi memberi kebebasan untuk membuat aksi lebih liar tanpa kehilangan rasa ancaman franchise. Film ini ideal bagi penggemar Predator yang ingin variasi, atau penonton animasi dewasa yang lebih tertarik pada duel daripada dialog panjang.
- KPop Demon Hunters
Rumi, Mira, dan Zoey menjalani dua kehidupan: bintang K-pop dan pemburu iblis. Premis tersebut terdengar sangat ramai, tetapi film ini mampu menyatukan musik, persahabatan, komedi, dan pertarungan supernatural dalam ritme yang mudah diikuti.
Animasi yang ekspresif membuat setiap lagu dan adegan laga terasa seperti bagian dari identitas yang sama. Film ini bekerja untuk anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa yang terbuka pada musical action. Jangan heran bila soundtrack-nya justru menempel lebih lama daripada adegan pertarungannya.
- Sisu: Road to Revenge
Jorma Tommila kembali sebagai sosok yang nyaris tidak bisa dihentikan. Sekuel ini mempertahankan kombinasi survival, balas dendam, dan kekerasan yang dibuat begitu berlebihan hingga terasa seperti legenda rakyat berdarah.
Jalmari Helander tidak mengejar realisme penuh. Ia lebih tertarik pada cara karakter utama keluar dari situasi yang tampak mustahil dengan kreativitas ekstrem. Cocok untuk penonton yang menginginkan aksi brutal, sederhana, dan tidak banyak basa-basi.
- Deep Cover
Seorang pengajar improvisasi membawa murid-muridnya ke operasi polisi karena kemampuan mereka berpura-pura dianggap berguna untuk penyamaran. Masalahnya, permainan itu cepat berubah menjadi situasi kriminal sungguhan.
Bryce Dallas Howard, Orlando Bloom, dan Nick Mohammed membangun chemistry melalui rasa panik dan keputusan spontan. Aksi film ini tidak seberat Havoc, tetapi konsep improvisasinya memberi humor yang segar. Pas untuk penonton yang suka action-comedy dengan ensemble kuat.
- Last Bullet
Lino kembali menyelesaikan konflik yang dibangun sejak dua film Lost Bullet sebelumnya. Keahliannya memodifikasi mobil kembali menjadi senjata utama dalam perburuan Areski dan jaringan aparat korup.
Film Prancis ini mengerti bahwa pengejaran mobil harus punya bobot, arah, dan kerusakan yang terasa nyata. Sebaiknya tonton dua film terdahulu lebih dulu agar hubungan dan dendamnya tidak terasa datar. Penggemar practical car chase akan mendapat kepuasan paling besar.
- The Old Guard 2
Andy dan kelompok prajurit abadi kembali menghadapi ancaman yang berkaitan langsung dengan sejarah panjang mereka. Kehadiran karakter baru memperbesar konflik tentang keabadian, loyalitas, dan tujuan hidup.
Charlize Theron tetap menjadi pusat fisik dan emosional cerita, sementara Uma Thurman menambah energi baru. Sekuel ini paling cocok bagi penonton film pertama; world-building dan hubungan lama menjadi bagian penting dari ketegangannya.
- Den of Thieves 2: Pantera
Big Nick mengikuti Donnie ke Eropa, tempat perampokan berlian dan jaringan kriminal baru membuat hubungan pemburu serta buruan semakin kabur. Gerard Butler dan O’Shea Jackson Jr. kembali mengandalkan tensi maskulin yang menjadi ciri film pertama.
Sekuel ini lebih dekat ke heist thriller daripada perang polisi langsung. Ritmenya membutuhkan kesabaran, tetapi payoff-nya bekerja bagi penonton yang menikmati perencanaan, pengkhianatan, dan perubahan aliansi.
- Novocaine
Jack Quaid memainkan Nathan Caine, pria yang tidak dapat merasakan sakit dan mendadak harus menggunakan kondisi itu saat orang yang ia sayangi diculik. Gimmick tersebut menghasilkan aksi fisik yang sama-sama brutal dan konyol.
Film ini tahu bahwa kebal rasa sakit bukan berarti kebal cedera. Humor muncul dari jarak antara tubuh yang rusak dan ekspresi Nathan yang tetap bergerak. Cocok untuk penonton yang suka konsep high-concept sederhana dengan tempo cepat.
- Pengepungan di Bukit Duri
Joko Anwar menempatkan seorang guru pengganti di sekolah yang berubah menjadi ruang pengepungan. Edwin awalnya datang dengan tujuan pribadi, tetapi kekacauan sosial membuatnya harus bertahan hidup bersama dan melawan para siswa di sekelilingnya.
Aksinya terasa dekat karena ruangnya sempit, tubuhnya rentan, dan konflik sosialnya berakar pada ketakutan yang familier. Film ini bukan tontonan ringan. Ia lebih cocok untuk penonton dewasa yang ingin thriller lokal dengan tekanan moral, kemarahan, dan survival.
- Timur
Timur mengikuti prajurit pasukan khusus dalam misi pembebasan sandera yang membawanya kembali ke wilayah masa kecil. Konflik menjadi personal ketika orang yang harus ia hadapi berkaitan dengan persahabatan lamanya.
Film ini penting karena menandai debut penyutradaraan Iko Uwais sambil tetap menempatkannya sebagai aktor utama. Koreografi laga menjadi magnet, tetapi ikatan saudara dan pilihan moral memberi lapisan tambahan. Ini salah satu rilisan lokal yang layak dicatat dalam perkembangan action Indonesia.
Judul dengan Rating Kritikus Tertinggi

Skor kritikus tertinggi dalam daftar ini diraih Black Bag, disusul Predator: Killer of Killers, Sisu: Road to Revenge, Warfare, KPop Demon Hunters, dan Deep Cover. Angka tersebut membantu memetakan konsistensi ulasan, tetapi tidak otomatis menentukan mana yang paling menghibur untuk kamu.
| Judul | Tomatometer | Kekuatan yang Menonjol |
|---|---|---|
| Black Bag | 96% | Spy thriller ringkas dan penuh kontrol |
| Predator: Killer of Killers | 95% | Antologi animasi dengan variasi aksi |
| Sisu: Road to Revenge | 93% | Survival action yang ekstrem |
| Warfare | 92% | Realisme dan pengalaman imersif |
| KPop Demon Hunters | 91% | Animasi, musik, dan aksi yang menyatu |
| Deep Cover | 90% | Premis komedi penyamaran yang segar |
Rating di atas dicatat per 28 Juli 2026 dan dapat berubah ketika ulasan baru masuk. Perhatikan juga jumlah ulasan dan perbedaan respons penonton. Film dengan 96 persen bukan berarti dua kali lebih seru daripada film dengan 80 persen; angka tersebut hanya menunjukkan proporsi kritikus yang memberikan penilaian positif.
Pilihan Netflix dan Platform Streaming Indonesia
Untuk pencarian Film Action 2025 Netflix, pilihan yang sudah terverifikasi mencakup Havoc, Last Bullet, dan The Old Guard 2. Di luar Netflix, F1 tersedia melalui Apple TV, sedangkan Pengepungan di Bukit Duri dapat diakses di Prime Video Indonesia.
| Judul | Platform | Catatan Akses |
|---|---|---|
| F1 | Apple TV | Tersedia dengan subtitle Indonesia |
| Havoc | Netflix | Audio dan subtitle Indonesia tersedia |
| Last Bullet | Netflix Indonesia | Audio dan subtitle Indonesia tersedia |
| The Old Guard 2 | Netflix resmi | Ketersediaan bahasa mengikuti akun dan wilayah |
| Pengepungan di Bukit Duri | Prime Video | Tersedia untuk pengguna Indonesia |
Katalog dapat bergeser karena lisensi, paket, dan wilayah akun. Karena itu, cek kembali halaman platform sebelum berlangganan khusus untuk satu judul. Bedakan pula film yang memang rilis pada 2025 dengan film lama yang baru ditambahkan ke layanan streaming pada tahun tersebut.
Film Laga Asia dan Indonesia yang Menonjol pada 2025
Sorotan Asia pada 2025 tidak seharusnya diisi film 2024 yang kebetulan baru viral atau masuk platform. Pilihan yang benar-benar sesuai tahun mencakup Demon City dari Jepang, Mantis dari Korea Selatan, serta rilisan Indonesia seperti Pengepungan di Bukit Duri dan Timur.
Demon City menawarkan balas dendam bergaya manga dengan kombinasi pedang, senjata api, dan kriminalitas urban. Mantis bergerak di dunia pembunuh bayaran dan cocok untuk penonton yang menyukai rivalitas ala Kill Boksoon. Keduanya dapat menjadi alternatif saat kamu sudah selesai dengan 20 judul utama.
Untuk Indonesia, data LSF mencatat Pengepungan di Bukit Duri berdurasi 118 menit, disutradarai Joko Anwar, dan diklasifikasikan untuk usia 17 tahun ke atas. Film ini menggabungkan pengepungan fisik dengan konflik diskriminasi dan kebencian rasial.
Sementara itu, halaman LSF Timur mengonfirmasi tanggal tayang 18 Desember 2025, durasi 101 menit, produksi Uwais Pictures, serta debut Iko Uwais sebagai sutradara. Verifikasi ini penting karena Timur kerap tercampur dengan Ikatan Darah, padahal judul terakhir baru tayang pada 2026.
Pilih Berdasarkan Subgenre dan Mood

Film yang paling seru bergantung pada jenis adrenalin yang kamu suka. F1 unggul untuk sensasi balapan, Mission: Impossible untuk stunt dan espionase, sedangkan Ballerina atau Havoc lebih cocok bagi penggemar pertarungan keras.
- Untuk sensasi balapan
Pilih F1. Kamera, suara mesin, dan struktur kompetisinya membuat balapan terasa mudah dipahami bahkan bagi penonton yang tidak mengikuti musim Formula 1.
- Untuk penggemar John Wick
Ballerina adalah pintu paling langsung karena berada di semesta yang sama. Havoc lebih kasar, sedangkan Sisu: Road to Revenge membawa kekerasan ke arah yang lebih absurd.
- Untuk cerita yang tidak cuma ledakan
Black Bag menjadi pilihan utama. Thunderbolts* juga menarik karena menggunakan aksi untuk membahas rasa gagal, kesepian, dan kebutuhan untuk terhubung.
- Untuk tontonan yang tidak terlalu berat
The Naked Gun, Deep Cover, dan Novocaine menjaga energi tetap tinggi lewat humor. Pilihannya pas untuk malam santai atau tontonan bersama teman.
- Untuk protagonis perempuan kuat
Ballerina, The Old Guard 2, Thunderbolts*, dan KPop Demon Hunters menawarkan tokoh perempuan dengan gaya aksi, konflik, dan target penonton yang berbeda.
- Untuk pilihan lokal
Pengepungan di Bukit Duri cocok untuk thriller sosial yang sesak. Timur lebih dekat ke aksi militer dan martial arts dengan misi penyelamatan sebagai pusat cerita.
Saat membandingkan F1 dan Mission: Impossible, pertanyaannya bukan mana yang mutlak lebih bagus. F1 memberi sensasi kecepatan dan drama olahraga, sedangkan Mission: Impossible menawarkan ketegangan misi, infiltrasi, dan stunt ekstrem.
Tontonan Aksi yang Cocok untuk Keluarga
Pilihan untuk keluarga sebaiknya ditentukan dari klasifikasi usia, intensitas kekerasan, bahasa, dan tema, bukan hanya karena filmnya animasi atau superhero. KPop Demon Hunters, Superman, dan The Fantastic Four: First Steps lebih mudah dipertimbangkan dibanding Havoc, Warfare, atau Sisu: Road to Revenge.
| Judul | Pertimbangan | Catatan Orang Tua |
|---|---|---|
| KPop Demon Hunters | Animasi musikal dengan monster dan pertarungan fantasi | Halaman Netflix Indonesia menampilkan klasifikasi 10+ |
| Superman | Superhero dengan tone optimistis | Tetap memiliki pertempuran dan ancaman skala besar |
| The Fantastic Four: First Steps | Petualangan keluarga dan sci-fi | Periksa klasifikasi resmi sebelum menonton bersama anak kecil |
| The Naked Gun | Action-comedy dan humor absurd | Sebagian lelucon lebih cocok untuk remaja atau dewasa |
| Deep Cover | Komedi penyamaran dengan kriminalitas | Lebih ringan, tetapi tetap memuat ancaman dan bahasa dewasa |
Animasi tidak otomatis berarti aman untuk semua umur. Sebaliknya, film superhero yang cerah tetap dapat memuat kehancuran, kematian, atau konflik emosional. Cek klasifikasi yang tampil pada platform atau distributor Indonesia, lalu sesuaikan dengan sensitivitas anak.
Kesimpulan: Film Action 2025 Mana yang Paling Layak Ditonton?
F1 adalah rekomendasi paling seimbang untuk spectacle, emosi, dan aksesibilitas. Mission: Impossible – The Final Reckoning unggul untuk stunt besar, Black Bag untuk cerita mata-mata yang cerdas, Ballerina untuk gun-fu, dan Thunderbolts* untuk aksi superhero yang lebih berbasis karakter.
Untuk pilihan streaming, mulai dari Havoc saat ingin aksi brutal atau KPop Demon Hunters ketika mencari tontonan yang lebih ringan. Dari Indonesia, Pengepungan di Bukit Duri punya tekanan sosial paling kuat, sedangkan Timur menarik sebagai debut penyutradaraan Iko Uwais. Setelah itu, kamu dapat beralih ke daftar acara Ji Chang-wook untuk pilihan action dan entertainment Korea lainnya.








