Nama Danilla Riyadi selalu identik dengan kejujuran, lirik reflektif, serta warna musik emosional yang khas dan autentik. Sebagai salah satu penyanyi dan penulis lagu paling berkarakter di industri musik Indonesia, Danilla konsisten menghadirkan karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga mengajak pendengar menyelami ruang-ruang batin yang jarang tersentuh.
Dalam sebuah perbincangan mendalam dalam YouTube THE ROCKIN LIFE, Danilla berbagi tentang fase hidup yang tengah ia jalani saat ini, fase melepaskan dan berdamai dengan banyak hal. Ia juga membicarakan bagaimana hubungannya dengan musik terus berkembang seiring waktu, bagaimana ia memaknai konsep moving on dengan caranya sendiri, hingga proses kreatif yang melatarbelakangi lahirnya album Candramawa.
Dari obrolan tersebut, terlihat jelas bahwa perjalanan Danilla bukan sekadar tentang karier bermusik atau pencapaian industri. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang pertumbuhan emosional, penerimaan terhadap luka dan kebahagiaan, serta keberanian untuk melepaskan sesuatu yang memang sudah waktunya dilepas. Sebuah refleksi personal yang menjadikan karya-karyanya terasa semakin relevan dan dekat dengan banyak orang.
Ketika ditanya sedang berada di fase apa dalam hidupnya, Danilla Riyadi dengan jujur menyebut bahwa dirinya kini tengah berada di fase “melepaskan”. Jika dulu ia merasa memiliki sikap yang terkesan “bodo amat”, kini sikap tersebut berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih matang, bukan lagi sekadar acuh atau tidak peduli, melainkan bentuk kepasrahan yang lahir dari penerimaan. Banyak hal telah terjadi dalam hidupnya, banyak pula yang telah diusahakan dengan sungguh-sungguh.

Namun pada titik tertentu, ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa atau perlu dikendalikan sepenuhnya. Fase melepaskan baginya bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan memahami bahwa menggenggam terlalu erat justru bisa melelahkan diri sendiri. Ada waktunya berhenti memaksa, ada saatnya membiarkan sesuatu berjalan atau bahkan pergi agar diri bisa bernapas lebih lega. Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, ambisi, dan ekspektasi sosial, sikap ini terasa semakin relevan. Banyak orang terjebak dalam keinginan untuk mempertahankan relasi, mimpi, atau pencapaian yang sebenarnya sudah tidak sehat, padahal mungkin yang paling dibutuhkan adalah keberanian untuk melepaskan dengan sadar dan dewasa, bukan karena kalah, tetapi karena memilih ketenangan.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, hubungan Danilla Riyadi dengan musik pun mengalami transformasi yang signifikan. Jika pada masa-masa awal ia cenderung sangat protektif terhadap visi dan idealismenya sendiri, kini ia jauh lebih terbuka dalam proses kreatif, terutama saat mengerjakan aransemen bersama timnya, Lafa dan Ota. Ia tetap memiliki pendirian yang kuat terhadap warna musik yang ingin dibangun, namun tidak lagi menutup diri terhadap masukan. Baginya, kolaborasi bukan berarti mengurangi identitas, melainkan memperkaya perspektif dan memperluas kemungkinan artistik. Sikap ini menunjukkan kedewasaan kreatif yang tumbuh secara alami, sebuah fase di mana ego mulai digantikan oleh dialog dan kepercayaan terhadap tim.
Di sisi lain, perubahan itu juga terasa dari selera musik yang ia konsumsi sehari-hari. Jika dulu mungkin ia lebih eksploratif atau ekspresif, kini ia justru semakin tertarik pada musik-musik yang melankolis, menenangkan, bahkan genre deep sleep, musik refleksi, hingga scoring instrumental. Pilihan-pilihan tersebut mencerminkan kondisi batin yang lebih hening dan kontemplatif. Musik baginya bukan hanya medium berekspresi, tetapi juga ruang untuk beristirahat, merenung, dan mengendapkan emosi. Transformasi ini memperlihatkan bahwa kedewasaan tidak hanya tampak dalam karya yang dihasilkan, tetapi juga dalam cara seorang musisi menikmati, meresapi, dan berdamai dengan musik itu sendiri.
Bagi Danilla Riyadi, konsep moving on tidak pernah benar-benar berarti melupakan atau menghapus masa lalu sepenuhnya. Ia justru memilih pendekatan yang lebih realistis “live with it”, hidup berdampingan dengan apa pun yang sudah terjadi. Menurutnya, setiap cerita, entah itu indah atau menyakitkan, adalah bumbu kehidupan yang membentuk karakter dan kedewasaan seseorang. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah ingredients penting yang meracik siapa diri kita hari ini. Karena itu, alih-alih memaksa diri untuk lupa atau menekan kenangan, Danilla memilih untuk menerima dan merangkulnya dengan tenang, tanpa harus terus-menerus larut dalam emosi.
Prosesnya terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kedewasaannya, memastikan diri cukup istirahat, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta tidak membiarkan emosi berlebihan menghambat langkah ke depan. Baginya, moving on bukanlah perlombaan untuk terlihat kuat atau cepat pulih, melainkan proses perlahan untuk tetap berjalan sambil membawa pelajaran dari masa lalu. Perspektif ini menawarkan sudut pandang yang lebih lembut dan manusiawi, bahwa terkadang kita tidak perlu benar-benar menghapus kenangan untuk bisa maju. Cukup akui keberadaannya, terima sebagai bagian dari perjalanan, dan lanjutkan hidup tanpa membiarkannya menguasai arah kita.

Danilla Riyadi secara jujur mengakui bahwa ia pernah berada di situasi mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah waktunya dilepas. Namun, ia juga menyadari bahwa fase itu biasanya tidak berlangsung lama. Ada kesadaran yang cepat datang ketika ia tahu bahwa sesuatu memang tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Untuk menjelaskan hal tersebut, ia menggunakan analogi sederhana namun relatable, seperti ketika merasa lapar, tetapi tidak langsung makan melainkan minum air putih terlebih dahulu untuk memastikan apakah itu benar-benar lapar atau sekadar impuls sesaat.
Pendekatan ini juga ia terapkan dalam hidup dan bermusik. Ketika ada sesuatu yang terasa belum selesai, ia akan memberi satu kesempatan lagi, mencoba sekali lagi dengan kesadaran penuh. Tetapi jika setelah dicoba tetap tidak berjalan atau tidak “works”, ia memilih untuk melepaskan, mau tidak mau. Baginya, memberi kesempatan bukan berarti memaksakan. Ada batas yang harus dihormati, termasuk batas energi dan perasaan diri sendiri. Sikap ini memperlihatkan keseimbangan yang menarik antara spontanitas dan refleksi. Meski dikenal sebagai pribadi yang spontan dan random, Danilla tetap menyediakan ruang untuk berpikir ulang sebelum mengambil keputusan besar sebuah kombinasi antara intuisi dan kedewasaan yang semakin terasah seiring waktu.
Salah satu kekuatan utama dalam karya Danilla Riyadi adalah ruang interpretasi yang sengaja ia biarkan terbuka lebar. Bagi Danilla, sebuah lagu tidak harus memiliki satu makna tunggal yang kaku. Justru ia merasa senang ketika satu lagu yang sama bisa dimaknai berbeda oleh tiap pendengar. Lagu yang terdengar ceria bagi sebagian orang bisa terasa sendu bagi yang lain, tergantung pada pengalaman, kondisi batin, dan momen saat lagu itu didengarkan. Menurutnya, makna lagu sejatinya lahir di detik ketika seseorang benar-benar menyelami dan “merasakan” lagu tersebut, bukan semata dari niat awal sang pencipta.
Ketika sebuah karya sudah dirilis ke publik, Danilla percaya bahwa lagu itu tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya. Lagu tersebut berubah menjadi milik bersama, milik siapa pun yang mendengarkan dan menghidupkannya dengan pengalaman pribadi mereka. Di titik itulah hubungan emosional antara musik dan pendengar tercipta. Kebebasan interpretasi ini membuat karya-karya Danilla terasa sangat personal dan intim, meskipun didengar oleh ribuan orang. Setiap individu dapat menemukan potongan cerita dirinya sendiri di dalam lagu yang sama, menjadikan musik bukan hanya medium hiburan, tetapi juga ruang refleksi dan dialog batin yang tak terbatas.
Bagi Danilla Riyadi, tidak semua perasaan harus segera dihapus hanya karena kita ingin terlihat sudah “baik-baik saja”. Ia percaya ada emosi tertentu, baik luka maupun kebahagiaan yang memang perlu tinggal lebih lama bersama kita, bahkan ketika secara fisik kita sudah bergerak maju. Perasaan-perasaan itu bukan penghambat, melainkan penanda perjalanan hidup. Untuk menggambarkan hal tersebut, ia mengibaratkan pengalaman hidup seperti sistem checkpoint dalam permainan Crash Bandicoot. Setiap luka, tawa, kehilangan, dan kemenangan adalah titik penanda bahwa kita pernah melewati satu fase tertentu. Tanpa checkpoint, kita mungkin tidak sadar sudah sejauh apa melangkah.

Menurutnya, mencoba menghindari atau menekan ingatan justru membuatnya semakin sering muncul dan terasa lebih berat. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa “ya, aku pernah terluka” atau “aku pernah sangat bahagia di momen itu”, perasaan tersebut perlahan kehilangan kuasanya untuk menghantui. Dalam filosofi ini, menghadapi rasa sakit bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses pendewasaan. Luka bukan sesuatu yang harus disangkal, tetapi bagian dari konstruksi diri yang membuat seseorang menjadi lebih utuh. Dengan menerima keberadaan emosi-emosi itu, seseorang tidak hanya belajar bertahan, tetapi juga belajar memahami dirinya sendiri dengan lebih dalam.
Bagi Danilla Riyadi, tekanan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses berkarya. Ia menyadari bahwa kondisi emosional sangat memengaruhi arah dan warna musik yang ia ciptakan. Menariknya, ia mengaku memiliki pola yang hampir berulang setiap tahun di awal tahun biasanya ia merasa stabil dan baik-baik saja, namun memasuki pertengahan hingga akhir tahun, muncul fase uring-uringan, gelisah tanpa sebab yang selalu jelas. Hal-hal kecil bisa terasa begitu meresahkan, bahkan pikiran sederhana pun dapat berkembang menjadi kegelisahan yang cukup intens.
Namun, alih-alih melihat fase tersebut sebagai sesuatu yang negatif, Lafa rekan kreatifnya menyebutnya sebagai masa inkubasi. Sebuah periode ketika benih-benih ide sedang diproses secara diam-diam. Keresahan, sekecil apa pun, berpotensi menjadi lirik, melodi, atau bahkan konsep lagu yang utuh. Perspektif ini membuat Danilla belajar untuk tidak melawan tekanan, melainkan merangkulnya. Ia mencoba memahami setiap emosi yang muncul dengan rasa ingin tahu, “Ini perasaan apa sebenarnya?” Dari situ, ia memilih mencurahkannya ke dalam karya, entah melalui tulisan, aransemen, atau sekadar obrolan terbuka dengan orang terdekat.
Ia juga menekankan pentingnya berbicara dan mengekspresikan isi kepala. Menyimpan semuanya sendiri hanya akan membuat pikiran terasa sesak dan melelahkan. Tekanan memang tidak bisa dihindari, tetapi bisa diolah menjadi energi kreatif jika disikapi dengan santai dan terbuka. Dalam proses itulah, kegelisahan berubah fungsi, bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai bahan bakar yang menghidupkan karya.
Bagi Danilla Riyadi, ekspektasi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola dengan sadar. Ia bahkan memiliki istilah pribadi yang ia sebut sebagai “management kecewa”. Menurutnya, setiap orang berhak memiliki mimpi dan harapan setinggi mungkin, tidak ada yang salah dengan ingin terbang tinggi atau mencapai sesuatu yang besar. Namun setelah menetapkan ekspektasi, ada satu pertanyaan penting yang harus diajukan pada diri sendiri, jika itu tidak tercapai, apakah kita siap menerima konsekuensinya? Jika jawabannya belum siap, mungkin ekspektasi tersebut perlu disesuaikan ke level yang lebih realistis dan selaras dengan kapasitas mental kita saat itu.

Bagi Danilla, kekecewaan bukanlah musuh, melainkan risiko yang harus diperhitungkan sejak awal. Dengan menyadari potensi gagal, seseorang bisa mempersiapkan mentalnya sehingga tidak terlalu hancur ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Konsep ini terasa sangat relevan di era media sosial, ketika standar kesuksesan sering kali terlihat instan, glamor, dan nyaris tanpa celah kegagalan. Padahal, di balik setiap pencapaian selalu ada kemungkinan tidak berhasil. Karena itu, mengelola rasa kecewa sama pentingnya dengan berani bermimpi. Bermimpi memberi arah, sementara management kecewa memberi keseimbangan agar seseorang tetap bisa berjalan tanpa kehilangan kewarasan ketika realita tidak seindah ekspektasi.
Bagi Danilla Riyadi, sebuah lagu tidak pernah dianggap selesai hanya karena proses rekamannya rampung. Ia percaya bahwa karya perlu “diendapkan” terlebih dahulu sebelum benar-benar dilepas ke publik. Biasanya, setelah lagu selesai dibuat dan diaransemen, ia bersama tim memilih untuk tidak langsung merilisnya. Lagu tersebut dibiarkan sejenak, lalu didengarkan kembali keesokan harinya, bahkan berulang kali dalam rentang waktu tertentu. Proses ini bisa berlangsung hingga sebulan, dengan jeda mendengarkan secara berkala, misalnya seminggu sekali untuk memastikan apakah rasa yang muncul masih sama.
Jika setelah melalui fase tersebut lagu itu tetap terasa enak, tetap menghadirkan emosi yang sama seperti saat pertama kali diciptakan, dan masih menyimpan kenangan personal yang kuat, maka bagi Danilla itu adalah tanda bahwa lagu tersebut sudah cukup jujur dan siap dipublikasikan. Ia mencari rasa “kembali ke momen awal” setiap kali mendengarkannya. Jika sensasi itu masih ada, berarti karya tersebut belum kehilangan ruhnya. Pendekatan ini menunjukkan betapa pentingnya kejujuran emosional dalam proses kreatifnya. Bagi Danilla, lagu bukan sekadar produk yang harus cepat dirilis, melainkan perpanjangan perasaan yang harus benar-benar matang sebelum dibagikan kepada pendengar.
Album Candramawa menjadi salah satu refleksi paling personal dalam perjalanan Danilla Riyadi. Ia menyebut delapan lagu yang ada di dalamnya sebagai representasi dari delapan peristiwa besar dalam hidupnya, momen-momen yang pernah mengguncang, membentuk, sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri dan dunia. Bagi Danilla, ketika ia sudah mampu menyanyikan kembali kisah-kisah tersebut tanpa terbebani emosi yang mentah, itu berarti ia telah berdamai dengannya. Menyanyikan ulang menjadi semacam penanda bahwa luka atau kebahagiaan itu tidak lagi menguasai, melainkan sudah menjadi bagian yang diterima.
Tema besar dalam album ini adalah tentang melepaskan dan belajar ikhlas. Melepaskan bukan sekadar kehilangan, melainkan proses mengembalikan fokus pada diri sendiri pada pertanyaan-pertanyaan yang sering terabaikan di tengah dunia yang penuh distraksi. Candramawa seolah mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan bertanya, apakah aku benar-benar bahagia? Apakah yang kulakukan sudah sesuai dengan kemampuanku? Apakah aku terlalu memaksakan diri, atau justru kurang memberi ruang untuk berkembang? Album ini tidak menawarkan jawaban yang gamblang, melainkan menghadirkan spektrum hitam, putih, dan abu-abu yang bisa ditafsirkan secara personal. Di sanalah kekuatannya setiap pendengar bebas menemukan makna masing-masing, sebagaimana Danilla menemukan makna dalam proses berdamainya sendiri.
Di balik konsistensi dan karya-karyanya yang kuat, Danilla Riyadi mengaku bahwa keinginan untuk berhenti bermusik bukanlah hal yang asing. Hampir setiap tahun, pikiran untuk berhenti menyanyi atau rehat total dari dunia musik sempat terlintas di kepalanya. Namun, ada tiga hal utama yang selalu membuatnya kembali bertahan. Pertama adalah tim yang ia sebut sebagai “tim kesuksesan Danilla”, orang-orang yang berjalan bersamanya, mendukung proses kreatif, sekaligus menjadi sistem pendukung emosional. Kedua adalah para pendengar dan penikmat musiknya, yang terus memberi ruang bagi karya-karyanya untuk hidup dan berkembang. Dan yang ketiga, yang paling mendasar, adalah dirinya sendiri.

Setiap kali ia benar-benar membayangkan berhenti, yang muncul justru rasa hampa, sebuah kekosongan yang membuatnya merasa tidak hidup. Musik baginya bukan sekadar profesi, melainkan ruang bernapas dan cara memahami diri. Karena itu, meskipun setiap kali merilis karya terasa seperti memulai dari nol, ia tetap memilih untuk berjalan. Bahkan jika prosesnya terasa melelahkan atau “berdarah-darah”, musik tetap menjadi ruang paling hidup baginya. Di sanalah ia merasa utuh, merasa ada, dan merasa berarti.
Saat ditanya apa yang ia wakili dari generasi Gen-Z, Danilla Riyadi justru menjawab dengan sesuatu yang terdengar sederhana namun jujur ketidaktahuan. Bagi Danilla, rasa tidak tahu bukanlah kelemahan, melainkan pintu menuju rasa ingin tahu. Dari ketidaktahuan itulah muncul dorongan untuk mencari, belajar, mengeksplorasi, dan terus bertanya. Sikap ini selaras dengan semangat generasi yang tumbuh di tengah perubahan cepat di mana rasa penasaran menjadi bahan bakar untuk terus berkembang.
Namun jika harus memilih satu hal yang paling ia wakili, Danilla menyebut konsistensi. Menurutnya, tanpa konsistensi, ia tidak akan berada di titik sekarang. Konsistensi dalam memegang keyakinan, dalam menjaga kualitas karya, serta dalam mempertahankan kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya menjadi fondasi penting perjalanan kariernya. Di tengah dunia yang serba instan dan cepat berubah, konsistensi justru menjadi nilai yang langka. Danilla membuktikan bahwa bertahan, terus belajar, dan setia pada proses adalah kunci untuk tumbuh secara autentik, bukan hanya sebagai musisi, tetapi juga sebagai individu.
Perjalanan Danilla Riyadi menunjukkan bahwa hidup bukanlah tentang selalu tampak kuat atau selalu berada di posisi benar. Ada fase-fase di mana yang paling dibutuhkan justru keberanian untuk menerima, mengakui keterbatasan, lalu melepaskan dengan sadar. Dari refleksinya tentang fase melepaskan, konsep management kecewa, hingga kebebasan interpretasi dalam lagu-lagunya, terlihat jelas bagaimana kedewasaan emosional itu tumbuh secara perlahan namun pasti. Semua proses tersebut bermuara pada satu hal, berdamai dengan diri sendiri.

Album Candramawa menjadi simbol paling nyata dari fase ikhlas dan penerimaan tersebut, sebuah karya yang tidak hanya didengar secara musikal, tetapi juga dirasakan secara personal. Di dalamnya ada luka, ada kebahagiaan, ada hitam, putih, dan abu-abu yang merepresentasikan kompleksitas hidup.
Bagi siapa pun yang sedang belajar menerima masa lalu, mengelola ekspektasi, atau mencari makna di tengah tekanan hidup, refleksi Danilla bisa menjadi pengingat sederhana namun kuat, tidak semua hal harus dilawan, tidak semua luka harus dilupakan, dan tidak semua ekspektasi harus dipaksakan. Kadang, yang paling menyembuhkan justru adalah keberanian untuk melepaskan.
Ingin mendengar langsung refleksi mendalam dari Danilla Riyadi tentang fase melepaskan, proses kreatif album Candramawa, hingga cara berdamai dengan ekspektasi? Saksikan perbincangan lengkapnya hanya di kanal YouTube THE ROCKIN LIFE https://youtu.be/bRQzFtoDvR8?si=-9NQzeR6V8ECHJQ- dan temukan sisi lain Danilla yang lebih jujur, intim, dan penuh makna.







