Demi Lovato, penyanyi, penulis lagu, sekaligus ikon pop berusia 33 tahun, kembali mencuri perhatian publik setelah mengumumkan tur terbarunya bertajuk It’s Not That Deep Tour yang akan digelar di Amerika Utara pada 2026. Pengumuman ini menjadi sorotan besar di industri musik global karena kurang dari dua tahun sebelumnya Lovato sempat mengungkapkan bahwa ia mungkin tidak akan pernah melakukan tur lagi.
Pernyataan tersebut muncul dari pengalaman pribadinya menghadapi beratnya jadwal tur yang menguras fisik, mental, serta emosional sebuah realitas yang jarang terlihat di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu konser. Keputusan Lovato untuk kembali ke panggung terasa kontras dengan pernyataannya di masa lalu. Dalam sejumlah wawancara sebelumnya, ia secara terbuka mengakui bahwa tur bukan hanya soal tampil menyanyi selama dua jam setiap malam. Ada latihan panjang, perjalanan lintas kota bahkan negara, adaptasi zona waktu, serta tekanan untuk selalu tampil prima di hadapan ribuan penonton. Ia menegaskan bahwa tubuhnya tidak lagi seperti saat remaja, ketika energi seolah tak terbatas. Kini, setiap keputusan profesional harus dipertimbangkan secara matang demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Tur memang menjadi bagian penting dalam karier seorang musisi. Bagi Lovato, yang telah berkarier sejak usia muda, panggung konser adalah tempat di mana ia membangun identitas artistiknya. Namun, pengalaman panjang itu pula yang membuatnya semakin sadar akan batasan diri. Jadwal padat, kurangnya waktu istirahat, serta tekanan performa tinggi bisa menjadi kombinasi yang sangat melelahkan. Tidak heran jika ia sempat merasa bahwa berhenti tur adalah pilihan terbaik demi keseimbangan hidup.
Meski demikian, ada faktor kuat yang akhirnya membuat Lovato berubah pikiran, hubungan emosional dengan para penggemar. Dalam beberapa kesempatan, ia menyebut bahwa tidak ada yang bisa menggantikan energi yang dirasakan saat berada di atas panggung dan mendengar ribuan orang menyanyikan lagunya bersama. Momen-momen tersebut menghadirkan rasa koneksi yang autentik, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dirasakan melalui media sosial atau streaming digital.

“It’s Not That Deep Tour” sendiri disebut-sebut akan menjadi tur yang lebih terkonsep secara matang, dengan pendekatan yang lebih memperhatikan kesehatan dan keberlanjutan jadwal. Lovato belajar dari pengalaman sebelumnya dan kini berusaha menyeimbangkan antara profesionalisme dan perawatan diri. Ia dilaporkan menjalani persiapan fisik intensif, termasuk latihan kardio, penguatan otot, serta menjaga pola makan dan kualitas istirahat agar stamina tetap optimal sepanjang rangkaian konser.
Pada pertengahan 2024, dalam wawancara bersama Rolling Stone Canada, Demi Lovato secara terbuka mengungkapkan keraguannya untuk kembali menjalani tur besar. Ia mengakui bahwa rangkaian konser yang padat dapat “membebani tubuh” dan menguras energi secara signifikan, hingga membuatnya tidak yakin apakah ia akan pernah tur lagi di masa depan. “It takes a toll on your body. I’m not 15 anymore”, ujarnya, menegaskan bahwa stamina dan kondisi fisik di usia 30-an tentu berbeda dibandingkan saat ia memulai karier sebagai remaja. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat perjalanan panjangnya sebagai performer sejak usia muda yang telah melewati berbagai tur dunia berskala besar, termasuk Holy Fvck Tour pada 2022 yang dikenal dengan jadwal intens dan tuntutan performa tinggi.
Tur tersebut mengharuskannya menjalani latihan vokal rutin, koreografi yang menguras tenaga, perjalanan lintas kota dan negara hampir tanpa jeda panjang, serta disiplin ketat dalam menjaga kesehatan dan stamina agar tetap prima di setiap pertunjukan. Ketika Lovato mengatakan bahwa tur bisa “meletihkan tubuh dan pikiran”, banyak penggemar memahami bahwa di balik gemerlap lampu panggung, sorakan ribuan penonton, dan euforia konser, terdapat tekanan fisik dan mental yang nyata, mulai dari kurangnya waktu istirahat, adaptasi zona waktu, hingga tuntutan untuk selalu tampil sempurna tanpa menunjukkan rasa lelah. Pengakuan jujur tersebut memperlihatkan sisi manusiawi seorang superstar yang selama ini dikenal kuat dan penuh energi, sekaligus membuka percakapan lebih luas tentang bagaimana industri musik modern menuntut ketahanan luar biasa dari para artisnya.

Meski sebelumnya sempat menyatakan keraguan untuk kembali menjalani tur panjang, Demi Lovato akhirnya mengubah pandangannya dan memutuskan untuk kembali ke panggung melalui tur terbarunya, It’s Not That Deep Tour. Rangkaian konser ini dijadwalkan berlangsung mulai 13 April hingga akhir Mei 2026 dan akan menyambangi sejumlah kota besar di Amerika Utara. Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, terutama para penggemar yang masih mengingat pernyataannya pada 2024 tentang kemungkinan tidak akan pernah tur lagi karena tuntutan fisik dan mental yang begitu berat.
Namun, dalam wawancara bersama People, Lovato menjelaskan bahwa ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan, koneksi emosional yang tercipta secara langsung antara dirinya dan para penggemar di setiap konser. Menurutnya, energi yang muncul ketika ribuan orang menyanyikan lagu bersama, merasakan emosi yang sama, dan berbagi momen intim dalam satu ruang adalah pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh media sosial, platform streaming, ataupun rilisan digital.
Ia bahkan menyebut bahwa melihat para penggemar menangis haru dan bahagia saat mendengar lagunya dibawakan secara langsung adalah pengalaman yang “tidak terlukiskan dengan kata-kata”. Momen-momen itulah yang membuatnya merasa dihargai, terhubung, dan bersyukur atas perjalanan karier yang telah ia tempuh. Pada akhirnya, dorongan emosional tersebut menjadi alasan utama yang memantapkan hatinya untuk kembali tur, bukan semata karena kewajiban profesional, melainkan karena kerinduan terhadap pengalaman autentik yang hanya bisa ditemukan di atas panggung konser.

Perjalanan Demi Lovato dari sempat menyatakan kemungkinan tidak akan tur lagi hingga akhirnya kembali ke panggung dunia merupakan cerminan nyata dari proses pertumbuhan pribadi dan profesional yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia secara jujur mengakui bahwa tur adalah aktivitas yang sangat menuntut, menguras fisik, mental, dan emosi, terutama setelah bertahun-tahun berkarier sejak usia muda. Namun di sisi lain, ia juga menyadari bahwa ada nilai yang tidak tergantikan dari pengalaman tampil secara langsung di hadapan para penggemar. Bagi Lovato, konser bukan sekadar agenda promosi album atau rutinitas industri musik, melainkan ruang pertemuan emosional yang autentik antara dirinya dan audiens yang telah tumbuh bersama lagu-lagunya.
Keputusannya untuk kembali menjalani tur menunjukkan bahwa di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu, terdapat dimensi yang jauh lebih dalam koneksi manusia. Melihat penggemar bernyanyi bersama, menangis, tertawa, dan menemukan penguatan melalui lirik-liriknya menjadi energi yang memberi makna pada seluruh kerja keras tersebut. Tur mungkin tetap melelahkan, tetapi pengalaman emosional yang tercipta di setiap kota membuat semua pengorbanan terasa sepadan. Pada akhirnya, kisah ini menegaskan bahwa bagi banyak artis besar, tur bukan hanya tentang pertunjukan, melainkan tentang menciptakan kenangan tak terlupakan, membangun kedekatan yang tulus, dan menyambungkan hati antara musisi dan para pendengarnya di seluruh dunia.
- Demi Lovato Sempat Tak Ingin Tur Lagi, Kini Kembali Manggung Meski Akui Tur Itu “Sangat Berat” - Feb 25, 2026
- Bruno Mars Bocorkan Daftar Lagu di Album “The Romantic” yang Segera Rilis - Feb 24, 2026
- Viral! Monyet Punch Dirundung hingga Sembunyi di Balik Boneka, Ini Penjelasan Resmi Kebun Binatang - Feb 23, 2026







