Harry Styles Ungkap Rasa “Sangat Kesepian” Usai One Direction Bubar

4
Sumber: Studio 92

Harry Styles, One Direction, karier solo, rasa kesepian, dan pengakuan emosional menjadi sorotan publik setelah sang bintang pop internasional membuka sisi paling rentan dalam perjalanan hidupnya. Harry Styles, yang dikenal luas lewat transformasi suksesnya dari anggota boy band menjadi solois papan atas, baru-baru ini berbagi cerita tentang fase sulit yang ia alami setelah tidak lagi menjadi bagian dari One Direction.

Dalam sebuah wawancara jujur, Styles mengungkap bahwa transisi dari tampil bersama empat rekan band ke berdiri sendiri di atas panggung menghadirkan perasaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mengaku merasa “very alone” atau “sangat kesepian” saat pertama kali menjalani karier solo. Selama bertahun-tahun berada dalam grup, ia terbiasa berbagi sorotan, tekanan, dan tanggung jawab dengan anggota lainnya. Namun ketika semua ekspektasi publik, kritik, dan sorotan media tertuju sepenuhnya kepadanya seorang diri, muncul ruang hening yang terasa begitu nyata.

Pengakuan ini mengejutkan banyak penggemar karena selama ini Harry dikenal sebagai sosok yang percaya diri dan karismatik di atas panggung. Di balik penampilan energik dan gaya flamboyannya, ternyata ada fase adaptasi emosional yang cukup berat. Ia harus menemukan kembali identitas musikalnya, membangun kepercayaan diri sebagai individu, serta menata ulang hidupnya tanpa dinamika kebersamaan yang dulu selalu mengiringinya.

Sumber: NME

Momen keterbukaan ini sekaligus menunjukkan sisi manusiawi seorang superstar dunia. Kesuksesan album-album solonya dan tur global yang megah tidak serta-merta menghapus rasa kehilangan yang sempat ia rasakan setelah babak besar bersama One Direction berakhir. Dari pengalaman itulah, Harry Styles perlahan belajar menerima perubahan, memahami dirinya lebih dalam, dan tumbuh menjadi artis yang lebih matang baik secara musikal maupun emosional.

Perjalanan dari One Direction menuju karier solo menjadi babak penting dalam kehidupan para anggotanya, terutama Harry Styles. Grup yang beranggotakan Harry Styles, Niall Horan, Zayn Malik, Louis Tomlinson, dan Liam Payne ini menjelma menjadi salah satu fenomena musik terbesar abad ke-21 setelah terbentuk melalui ajang The X Factor Inggris pada tahun 2010. Sejak saat itu, popularitas mereka melesat luar biasa berkat lagu-lagu hits seperti What Makes You Beautiful dan Story of My Life, yang tidak hanya mendominasi tangga lagu internasional tetapi juga memperkuat basis penggemar global mereka.

Tur dunia yang selalu sold-out, album yang terjual jutaan kopi, serta histeria penggemar di berbagai negara menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh One Direction dalam industri musik pop modern. Namun, pada periode 2015 hingga 2016, grup ini mengumumkan hiatus yang pada praktiknya menjadi akhir dari perjalanan mereka sebagai band aktif. Keputusan tersebut memicu gelombang emosi dari jutaan penggemar di seluruh dunia yang merasa kehilangan, sekaligus menjadi momen transisi besar bagi para personelnya yang harus belajar berdiri sendiri setelah bertahun-tahun tumbuh dan sukses bersama.

Sumber: Teen Vogue

Setelah One Direction resmi hiatus, Harry Styles memulai babak baru sebagai artis solo dengan merilis album debut self-titled Harry Styles pada tahun 2017. Album tersebut mendapat sambutan positif dari kritikus maupun publik, bahkan menandai transformasinya menjadi musisi dengan identitas artistik yang lebih matang dan personal. Namun di balik pencapaian profesional dan kesuksesan global itu, perjalanan awalnya sebagai solois ternyata tidak semulus yang terlihat dari luar. Dalam wawancara yang dipublikasikan oleh The Sunday Times Magazine, Styles secara terbuka mengakui bahwa ia sempat merasa “very alone” atau sangat sendirian ketika pertama kali berdiri sendiri di atas panggung setelah bertahun-tahun tampil bersama rekan-rekan bandnya.

Ia menjelaskan bahwa saat berada dalam sebuah grup yang terdiri dari lima orang, selalu ada ruang untuk berbagi sorotan dan bahkan “bersembunyi” di balik dinamika tim. Sebaliknya, ketika melangkah sebagai solois, seluruh perhatian publik, ekspektasi industri, hingga tekanan performa tertuju sepenuhnya kepadanya seorang diri. Tidak ada lagi pembagian beban atau dukungan spontan di atas panggung seperti sebelumnya. Perubahan drastis inilah yang membuatnya harus beradaptasi secara emosional dan mental, belajar memikul tanggung jawab penuh atas setiap keputusan artistik, sekaligus menghadapi rasa kesepian yang muncul di tengah sorotan dunia.

Di balik kesuksesan awalnya sebagai solois, Harry Styles juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan, terutama rasa takut mengecewakan para penggemar yang telah mendukungnya sejak era One Direction. Saat mengerjakan album solo pertamanya, ia tidak hanya dituntut untuk sukses secara komersial, tetapi juga untuk membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri dengan identitas musik yang autentik. Dalam proses kreatif tersebut, Styles mengaku berusaha keras menemukan suara dan arah artistik yang benar-benar mencerminkan dirinya, bukan sekadar melanjutkan bayang-bayang kesuksesan masa lalu. Ia pernah mengatakan bahwa pada album pertamanya ia mencoba mengeksplorasi jenis musik yang ingin ia ciptakan sebagai individu, namun di saat yang sama ia merasakan besarnya kepercayaan yang diberikan orang-orang kepadanya dan tidak ingin mengecewakan mereka.

Pengakuan ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan selebritas yang jarang terlihat publik. Di tengah sorotan lampu panggung dan angka penjualan yang impresif, ada pergulatan batin yang nyata, tentang ekspektasi, standar tinggi industri, serta tekanan untuk selalu tampil sempurna. Transisi dari anggota band ke solois bukan hanya perubahan status profesional, melainkan juga perjalanan mental yang menuntut keberanian untuk mengambil risiko, menerima kemungkinan kritik, dan tetap setia pada jati diri. Dalam fase inilah Styles belajar bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang keberanian menghadapi keraguan dan ketakutan yang datang bersamaan dengan perubahan besar dalam hidupnya.

Setelah menyelesaikan rangkaian tur global selama 22 bulan melalui Love On Tour pada Juli 2023, Harry Styles akhirnya mengambil jeda panjang yang menjadi istirahat pertamanya secara nyata dalam lebih dari satu dekade karier tanpa henti. Tur yang berlangsung di berbagai negara tersebut bukan hanya menjadi bukti konsistensi dan daya tariknya sebagai solois kelas dunia, tetapi juga fase yang sangat menguras energi fisik dan emosional. Selama bertahun-tahun, hidupnya dipenuhi jadwal padat, perjalanan lintas benua, latihan, wawancara, dan sorotan publik yang nyaris tak pernah berhenti. Karena itu, ketika tur berakhir, gagasan untuk benar-benar berhenti sejenak terasa asing baginya.

Sumber: Her Campus

Ia mengakui bahwa pada awalnya ide mengambil waktu istirahat terasa “gila”. Setelah terbiasa hidup dalam ritme cepat industri musik, ia bahkan sempat meragukan apakah dirinya mampu melambat dan menikmati hari-hari tanpa target atau panggung besar. Namun, justru dalam keheningan itulah ia menemukan perspektif baru. Styles mulai menyadari pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri, memperhatikan hal-hal sederhana yang sebelumnya terlewatkan karena kesibukan, dan memberi perhatian pada aspek kehidupan di luar karier. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak yakin bisa melakukannya, tetapi merasa momen tersebut adalah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dan melihat bagian lain dari hidupnya.

Pengalaman rehat ini menjadi titik refleksi penting yang mengubah cara pandangnya terhadap kesuksesan. Ia belajar bahwa produktivitas tanpa jeda bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan, dan bahwa menjaga keseimbangan mental sama pentingnya dengan pencapaian profesional. Dari momen inilah, Harry Styles tidak hanya kembali sebagai musisi yang matang secara artistik, tetapi juga sebagai individu yang lebih sadar akan kebutuhan dirinya sendiri di tengah gemerlap industri hiburan global.

Sejak melewati fase kesepian dan tekanan pasca-hiatus One Direction, Harry Styles justru berhasil mengubah pengalaman emosional tersebut menjadi energi kreatif yang memperkaya karya-karyanya. Ia tidak memilih jalur aman dengan sekadar mengikuti tren pasar, melainkan secara konsisten mengeksplorasi warna musik yang lebih personal, terinspirasi dari rock klasik, pop retro, hingga sentuhan folk yang intim. Keberaniannya bereksperimen membuat identitas musikalnya semakin kuat dan berbeda dari citra boyband yang melekat di awal kariernya. Setiap album yang ia rilis menunjukkan perkembangan artistik yang signifikan, baik dari sisi produksi, penulisan lirik, maupun konsep visual.

Album-album solonya setelah era One Direction mendapatkan respons positif, baik secara kritis maupun komersial. Puncaknya terlihat pada perilisan Harry’s House (2022), yang memperlihatkan sisi lebih dewasa dan reflektif dari dirinya sebagai penulis lagu. Album tersebut tidak hanya mendominasi tangga lagu internasional, tetapi juga mengantarkannya meraih penghargaan bergengsi seperti Grammy Awards, mempertegas posisinya sebagai salah satu musisi paling berpengaruh di generasinya.

Memasuki tahun 2026, Harry Styles kembali menunjukkan ambisi kreatifnya dengan bersiap merilis album studio keempat bertajuk Kiss All the Time. Disco, Occasionally., yang dijadwalkan meluncur pada 6 Maret 2026. Proyek ini disebut-sebut akan menghadirkan eksplorasi musikal baru dengan nuansa yang lebih berani dan eksperimental, sekaligus mempertahankan sentuhan emosional yang menjadi ciri khasnya. Tidak berhenti di situ, ia juga merencanakan residensi global di tujuh kota besar antara Mei hingga Desember 2026, sebuah langkah strategis yang menandakan level kariernya kini telah mencapai fase superstar dunia. Rangkaian residensi tersebut diprediksi menjadi salah satu agenda musik paling dinantikan, sekaligus bukti bahwa perjalanan solo Harry Styles bukan sekadar kelanjutan, melainkan evolusi yang terus menanjak menuju puncak baru dalam industri musik internasional.

Sumber: Tabloid Bintang

Kisah Harry Styles tentang rasa kesepian yang ia alami setelah One Direction bubar bukan sekadar pengakuan emosional seorang selebritas, melainkan potret jujur sisi manusiawi di balik gemerlap industri musik global. Perubahan besar dalam hidup, meski dibungkus oleh kesuksesan, sorotan media, dan pencapaian luar biasa tetap dapat menghadirkan tantangan emosional yang nyata dan sering kali tidak terlihat oleh publik. Transisi dari kebersamaan dalam sebuah grup menuju perjalanan individu memaksa Styles menghadapi ruang sunyi yang sebelumnya tak pernah ia kenal, sekaligus menantangnya untuk mengenal dirinya sendiri secara lebih mendalam.

Namun, alih-alih terjebak dalam kesepian tersebut, Harry Styles justru menjadikannya sebagai titik awal pertumbuhan personal dan artistik. Dari fase itulah ia belajar memperlambat langkah, menghargai kehidupan di luar panggung, serta memberi ruang bagi kreativitasnya berkembang secara lebih jujur dan autentik. Kesepian yang sempat ia rasakan berubah menjadi sumber kekuatan, membantunya menata ulang prioritas, menajamkan visi bermusik, dan membentuk identitas yang lebih matang. Perjalanan ini pada akhirnya mengantarkannya bangkit sebagai salah satu artis paling berpengaruh di generasinya, bukan hanya karena pencapaian musiknya, tetapi juga karena keberaniannya menghadapi perubahan dan bertumbuh dari pengalaman paling rapuh dalam hidupnya.