Michael B. Jordan, salah satu aktor papan atas Hollywood yang kerap dikenal lewat peran-peran intens dan berpengaruh, baru-baru ini membagikan kisah pribadi yang jarang ia ungkap sebelumnya. Ia menceritakan bagaimana keterlibatannya sebagai tokoh villain dalam film Black Panther ternyata meninggalkan dampak besar pada kesehatannya secara emosional. Dalam sebuah wawancara, Jordan mengaku bahwa proses menyelami karakter tersebut membuatnya banyak merenung tentang dunia akting, cara ia mengelola emosi, serta betapa pentingnya dukungan profesional seperti terapi untuk menjaga keseimbangan mentalnya.
Sebagai aktor yang dikenal disiplin dan total saat membangun karakter, Jordan menuturkan bahwa usai menyelesaikan perannya sebagai Erik Killmonger antagonis sentral dalam Black Panther (2018) ia masih “membawa” energi dan beban psikologis karakter itu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu dirinya kembali sepenuhnya menjadi “Michael” dan bukan lagi Killmonger, ia memutuskan mencari bantuan terapi. Melalui proses tersebut, ia belajar memproses emosi yang tertinggal, melepaskan sisi-sisi gelap karakter yang begitu kompleks, sekaligus memahami bahwa merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan mempersiapkan diri secara fisik untuk sebuah peran.
Erik Killmonger bukanlah tipe penjahat yang hitam-putih. Ia ditampilkan sebagai sosok yang dibentuk oleh luka masa kecil, kehilangan, dan kemarahan yang terpendam. Konflik batin yang ia alami, antara keinginan membalas dendam dan kebutuhan akan pengakuan menciptakan karakter yang kompleks dan tragis. Untuk memerankan figur seperti itu, Michael B. Jordan harus benar-benar masuk ke dalam cara berpikir Killmonger, memahami latar belakangnya, rasa sakit yang ia bawa, hingga motivasi di balik tindakannya. Kedalaman psikologis inilah yang membuat peran tersebut terasa berat. Jordan mengakui, ia tidak membayangkan bahwa keterlibatan emosional sedalam itu akan meninggalkan jejak yang begitu nyata bahkan setelah proses syuting usai.

Dalam wawancara bersama program CBS Sunday Morning, Jordan bercerita bahwa setelah film selesai, “kehadiran” Killmonger seolah masih menempel dalam dirinya. Emosi, kemarahan, dan kesepian karakter itu belum sepenuhnya pergi. Ia menyadari bahwa jika dibiarkan, hal tersebut bisa mempengaruhi cara ia merasa dan berpikir di kehidupan nyata. Pada titik itulah ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan terapis, sebuah langkah yang membantunya menata kembali emosi, memisahkan diri dari karakter, dan benar-benar melepaskan beban mental yang terbawa dari peran tersebut.
Michael B. Jordan mengakui bahwa setelah proses syuting Black Panther selesai, ia membutuhkan jarak sejenak untuk “kembali” pada dirinya yang sebenarnya. Ia menyebut fase ini sebagai proses decompress, semacam waktu pemulihan emosional setelah sekian lama larut dalam karakter yang penuh kemarahan dan luka batin. Menurut Jordan, terapi memberinya ruang aman untuk bernapas, menenangkan pikiran, serta menata kembali emosi yang sempat bercampur antara dirinya dan karakter Killmonger.
Selama menjalani sesi-sesi terapi tersebut, Jordan justru menemukan pelajaran baru tentang dirinya. Ia mulai memahami bagaimana pola kerjanya sebagai aktor dapat mempengaruhi kondisi mental, dan sebaliknya, bagaimana kondisi emosional yang tidak diolah bisa membebani proses kreatif. Terapi bukan hanya membantu “melepaskan” karakter yang intens, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri, membantunya belajar mengelola tekanan, stres, dan tuntutan pekerjaan dengan cara yang lebih sehat.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka. Dengan berbicara jujur kepada terapis maupun orang-orang terdekat, Jordan merasa lebih mampu memahami apa yang ia rasakan dan mengapa hal itu terjadi. Dukungan percakapan ini membuatnya lebih sadar secara emosional, sekaligus membuktikan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah dewasa untuk menjaga kesejahteraan diri.

Pengakuan Michael B. Jordan mengenai pengalamannya menjalani terapi muncul di saat topik kesehatan mental semakin mendapat perhatian besar di Hollywood. Industri film kini mulai menyadari bahwa tekanan emosional yang menyertai proses akting tidak selalu terlihat di permukaan. Melalui perannya sebagai Erik Killmonger yang dianggap sebagai salah satu antagonis paling berpengaruh di Marvel Cinematic Universe, Jordan secara tidak langsung memicu diskusi penting, bahwa mendalami karakter yang kelam dan penuh trauma dapat membawa dampak nyata pada kondisi psikologis seorang aktor.
Di dunia akting, para pemain sering dituntut untuk masuk sepenuhnya ke dalam emosi tokoh yang mereka perankan, bahkan ketika emosi tersebut jauh dari kehidupan pribadi mereka. Kedalaman eksplorasi itu kadang meninggalkan “jejak” setelah kamera berhenti merekam. Karena itulah, semakin banyak aktor, sutradara, dan pekerja film yang mulai berbicara secara terbuka tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan menormalisasi pencarian bantuan profesional tanpa rasa malu atau stigma.
Jordan juga menegaskan bahwa terapi tidak seharusnya dianggap tabu, terlebih bagi pria yang kerap dibebani anggapan bahwa mereka harus selalu terlihat kuat dan mampu mengatasi semuanya sendiri. Baginya, mengambil langkah untuk menemui terapis justru menunjukkan keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Ia berharap keterbukaannya bisa mendorong lebih banyak orang untuk menyadari bahwa mencari bantuan adalah tindakan yang wajar, sehat, dan sangat bermanfaat.
Peran Killmonger membawa pengaruh besar bagi perjalanan karier Michael B. Jordan. Meskipun karakter ini digambarkan sebagai sosok antagonis, akting Jordan justru menuai pujian luas, baik dari kritikus film maupun para penonton. Banyak yang menilai Killmonger sebagai salah satu villain paling kuat, realistis, dan berlapis dalam Marvel Cinematic Universe. Karakter tersebut berhasil meninggalkan kesan mendalam bukan hanya karena kejahatannya, tetapi karena latar belakang emosional yang tragis dan masuk akal.

Namun, sorotan dan apresiasi besar itu tidak otomatis membuat prosesnya terasa ringan. Di balik penghargaan yang datang, ada pergulatan mental yang harus Jordan hadapi sendiri. Peran Killmonger menjadi titik penting dalam kariernya, bukan semata-mata karena keberhasilan artistik, tetapi karena pengalaman ini membuka matanya terhadap sisi emosional dari profesi yang ia tekuni. Melalui karakter ini, ia belajar bahwa membangun tokoh yang meyakinkan sering kali berarti harus menyentuh bagian-bagian emosional yang dalam dan tidak selalu nyaman.
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa gemerlap kesuksesan di layar lebar sering kali menyembunyikan realitas yang jauh lebih kompleks di balik layar. Aktor mungkin terlihat percaya diri dan kuat di depan kamera, tetapi proses kreatif yang intens dapat meninggalkan dampak psikologis yang nyata, sesuatu yang jarang dibicarakan kecuali di antara mereka yang benar-benar mengalaminya.
Pengakuan Michael B. Jordan tentang alasan ia membutuhkan terapi setelah memerankan Killmonger di Black Panther menjadi kisah inspiratif yang membuka mata banyak orang mengenai kaitan antara seni peran dan kesehatan emosional. Pengalamannya menunjukkan bahwa karakter yang kuat, gelap, dan kompleks dapat mempengaruhi kondisi psikologis seorang aktor. Karena itu, terapi berperan penting sebagai cara untuk melepaskan emosi yang menumpuk selama proses akting intens, sekaligus membantu aktor kembali menemukan keseimbangan diri.
Keterbukaannya juga menegaskan bahwa membicarakan kesehatan mental secara jujur dapat mengurangi stigma, terutama di industri hiburan dan di kalangan pria yang kerap dituntut selalu terlihat kuat. Apa yang dialami Jordan menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun, baik mereka yang berkecimpung di dunia kreatif maupun yang ingin memahami dampak pekerjaan terhadap kondisi emosional. Dengan keberaniannya berbicara, ia ikut mendorong terciptanya percakapan yang lebih sehat dan penuh kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental di era modern.
- SZA Kritik ICE di Grammy 2026, “People Are Getting Snatched Up & Shot in the Face” Reaksi dan Maknanya - Feb 3, 2026
- Olivia Dean Menang Best New Artist di Grammy 2026, Menangis Haru di Panggung, “I’m the granddaughter of an immigrant” - Feb 2, 2026
- A$AP Rocky Diam-Diam Luncurkan Brand Perhiasan Mewah PAVĒ NITEŌ - Jan 30, 2026







