Di balik gemerlap panggung Grammy dan Academy Awards 2026, ada seorang perempuan yang pernah dianggap “tidak cukup baik” untuk debut sebagai idol K-pop. EJAE, atau Kim Eun-jae, menghabiskan hampir satu dekade sebagai trainee di bawah naungan SM Entertainment sebelum akhirnya di-drop karena vokalnya dianggap terlalu rendah dan tidak sesuai standar industri. Kini, nama yang sama justru menghiasi daftar pemenang Oscar, Grammy, dan Golden Globe untuk kategori Best Original Song lewat karya monumentalnya, “Golden”.
Perjalanan EJAE bukan sekadar kisah sukses semalam. Ini adalah narasi transformasi yang melibatkan burnout menurut WHO selama bertahun-tahun, keputusan berani untuk meninggalkan mimpi lama, dan ketekunan membangun karier baru dari nol sebagai songwriter di balik layar. Bagi banyak orang, kisahnya menjadi bukti nyata bahwa kegagalan bukanlah titik akhir, melainkan tiket menuju jalur yang lebih autentik.
Di artikel ini, Anda akan memahami secara menyeluruh siapa EJAE, mengapa ia tidak debut di SM Entertainment, bagaimana ia menemukan jati dirinya sebagai songwriter, hingga akhirnya menciptakan sejarah di industri musik global melalui film Netflix KPop Demon Hunters. Dari biodata EJAE hingga ulasan Harper’s Bazaar — semuanya tersaji dalam satu panduan komprehensif berikut ini.
Siapa EJAE? Profil dan Biodata Lengkap

EJAE adalah penyanyi dan penulis lagu Korea-Amerika yang lahir dengan nama Kim Eun-jae pada 6 Desember 1991 di Seoul, Korea Selatan. Saat ini ia berusia 34 tahun dan menetap di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Sebagai anak dari keluarga yang memiliki latar belakang seni — kakeknya adalah aktor legenda Korea Shin Young-kyun yang membintangi lebih dari 300 film — EJAE tumbuh dengan paparan dunia entertainment sejak dini. Namun, jalan menuju puncak tidak pernah mudah baginya.
Setelah gagal debut sebagai idol, EJAE memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di NYU Tisch School of the Arts, khususnya di Clive Davis Institute of Recorded Music. Pengalaman akademis ini membekalinya dengan keterampilan teknis dalam vocal production dan music composition yang kemudian menjadi fondasi karier songwriting-nya. Fanbase resminya diberi nama WINGS, sebuah simbol bahwa para penggemarnya adalah sayap yang membawanya terbang setelah sekian lama terjebak di tanah.
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Nama Lahir | Kim Eun-jae (김은재) |
| Nama Panggung | EJAE |
| Tanggal Lahir | 6 Desember 1991 |
| Tempat Lahir | Seoul, Korea Selatan |
| Kewarganegaraan | Korea-Amerika |
| Tempat Tinggal | Brooklyn, New York, AS |
| Pendidikan | NYU Tisch School of the Arts |
| Kakek | Shin Young-kyun (Aktor Legenda) |
| Fandom | WINGS |
Banyak yang bertanya-tanya mengapa EJAE memilih nama panggung tersebut. Meski tidak ada konfirmasi resmi, para pengamat musik menduga inisial “EJ” berasal dari Eun-jae, dengan tambahan huruf “A” yang memberikan kesan artistik dan internasional. Di era digital, EJAE aktif di berbagai platform media sosial dan streaming musik, memungkinkan penggemar dari seluruh dunia untuk mengikuti perkembangan kariernya secara real-time.
Perjalanan EJAE sebagai Trainee SM Entertainment
EJAE memulai perjalanannya di dunia K-pop pada usia yang sangat muda — 11 tahun — ketika ia masuk sebagai trainee di SM Entertainment pada tahun 2003. Di saat teman-teman sebayanya masih bermain di taman, EJAE sudah menghabiskan berjam-jam di ruang latihan, menari di depan cermin, dan berlatih vokal dengan instruktur yang ketat. Sistem trainee K-pop terkenal dengan disiplinnya yang militer, dan EJAE menjalani semuanya selama hampir satu dekade penuh.
Selama masa training, EJAE sempat dipertimbangkan untuk debut dalam beberapa formasi — baik sebagai solois maupun sebagai bagian dari grup trio. Namun, setiap kali kesempatan itu muncul, sesuatu selalu menghalangi. Ada yang bilang ia “terlalu tua” untuk debut di tengah persaingan dengan trainee muda lainnya. Ada pula yang menyebut vokalnya — yang naturalnya berada di register rendah dengan karakter husky — tidak sesuai dengan standar “idol K-pop” yang mengedepankan suara tinggi dan cerah ala Red Velvet.
Tekanan untuk mengubah suara alaminya memberikan dampak serius pada kesehatan vokalnya. EJAE mengalami masalah pada vocal cord akibat terlalu sering memaksa suaranya ke register yang tidak nyaman baginya. Bayangkan selama bertahun-tahun harus berlatih dengan teknik yang bertentangan dengan anatomi tubuhmu sendiri — itu bukan sekadar latihan, melainkan bentuk stres kronis yang menguras energi dan rasa percaya diri. Akhirnya, sekitar tahun 2014 hingga 2015, EJAE memutuskan untuk meninggalkan SM Entertainment. Bukan karena ia tidak berbakat, tapi karena industri tersebut belum siap untuk jenis bakat yang ia miliki.
Kepergiannya dari SM bukanlah penyerahan. Ia adalah keputusan sadar untuk melepaskan mimpi yang sudah tidak lagi mencerminkan siapa dirinya. Perjalanan ini mengingatkan kita pada pentingnya mendengarkan tubuh dan batasan diri sendiri — sebuah prinsip kesehatan mental yang sering terlupakan di tengah kultur kerja yang mengagungkan pengorbanan tanpa ampun.
Transisi ke Dunia Songwriting dan Produksi Musik
Setelah meninggalkan SM Entertainment, EJAE tidak langsung terjun ke dunia musik secara profesional. Ia memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di New York, sebuah keputusan yang terdengar kontraintuitif namun justru menjadi pijakan terkuatnya. Di NYU Tisch, EJAE mulai mengenal beat-making dan tertarik dengan scene musik underground SoundCloud — tempat kreativitas tidak terkekang oleh standar komersial. Di sinilah ia mulai menemukan suaranya yang sebenarnya.
Tahun 2016 menjadi titik balik pertama. EJAE menulis lagu “Hello” untuk girl group EXID, sebuah karya yang meski tidak menjadi hit besar, cukup untuk membuka pintu. Kemudian pada 2017, ia bertemu dengan Andrew Choi, seorang mentor yang membawanya ke SM songwriting camp — sebuah ironi manis bahwa perusahaan yang pernah menolaknya sebagai penyanyi kini mengundangnya sebagai songwriter. Di sinilah EJAE membuktikan bahwa kegagalan di satu bidang bisa menjadi kekuatan di bidang lain.
Breakthrough besar datang pada 2019 ketika EJAE menulis “Psycho” untuk Red Velvet. Lagu ini tidak hanya memuncaki Billboard World Digital Songs, tetapi juga menjadi salah satu lagu K-pop paling ikonik di dekade tersebut. Menariknya, EJAE menulis “Psycho” saat sedang mengalami konflik dengan tunangannya yang berjarak jauh — membuktikan bahwa karya terbaik sering kali lahir dari kerentanan emosional yang paling dalam. Setelah “Psycho”, daftar kliennya melebar pesat: aespa, TWICE, LE SSERAFIM, NMIXX, Taeyeon, dan Chung Ha.
Selama pandemi COVID-19, EJAE memanfaatkan waktu isolasi untuk belajar vocal production dari tunangannya yang bekerja sebagai audio engineer di Berkeley. Keterampilan baru ini memungkinkannya untuk tidak hanya menulis lagu, tetapi juga memproduksi vokal dan mengarahkan artistik secara mandiri. Sebuah investasi waktu yang tampaknya tidak penting pada saat itu, namun menjadi krusial ketika ia kemudian harus merekam puluhan demo untuk proyek film besar.
Breakthrough EJAE: KPop Demon Hunters dan Lagu Golden
EJAE bergabung dengan proyek film animasi Netflix KPop Demon Hunters sejak tahun 2020, awalnya hanya sebagai salah satu songwriter yang ditugaskan untuk mengisi soundtrack. Namun, sesuatu yang istimewa terjadi selama proses kreatif. Direktur film Maggie Kang dan tim produksi menyadari bahwa demo vokal yang direkam EJAE untuk referensi memiliki kualitas yang terlalu bagus untuk sekadar dijadikan guide track. Suara husky-low register yang pernah dianggap sebagai kelemahan di SM Entertainment kini menjadi aset paling berharga untuk karakter Rumi.
Proses kreatif di balik lagu “Golden” begitu intensif hingga EJAE dan co-writer Mark Sonnenblick menciptakan lebih dari 60 versi demo untuk beberapa lagu dalam film. Direktur Maggie Kang bahkan mengakui bahwa demo EJAE membantu proyek ini mendapatkan green light dari Netflix — artinya, tanpa suaranya, film ini mungkin tidak akan pernah dibuat. “Golden” yang ia co-write dan co-perform sebagai suara karakter Rumi meroket ke puncak tangga lagu global, mencapai posisi No. 1 di Billboard Hot 100.
Film KPop Demon Hunters sendiri mencatat sejarah sebagai film animasi paling banyak ditonton di Netflix sepanjang masa, bahkan melampaui ekspektasi industri. Soundtrack-nya mencetak rekor tersendiri: untuk pertama kalinya dalam sejarah, empat lagu dari satu film secara bersamaan menempati posisi Top 10 Billboard Hot 100. Lagu “Golden” juga menjadi No. 1 terlama yang dicapai oleh girl group di abad ke-21, sebuah pencapaian yang bahkan tidak bisa diraih oleh banyak grup K-pop yang berkarier selama bertahun-tahun.
| Metrik | Pencapaian |
|---|---|
| Status Netflix | Film animasi paling banyak ditonton sepanjang masa |
| Billboard Hot 100 | 4 lagu simultan di Top 10 (pertama kali untuk film) |
| Golden — Billboard | No. 1 Billboard Hot 100 |
| Rekor Girl Group | No. 1 terlama di abad ke-21 |
| Box Office Singalong | $18 juta pada weekend teatrikal |
| Billboard 200 Album | Soundtrack memuncaki chart |
Kesuksesan ini juga membawa dampak finansial yang signifikan. Weekend singalong teatrikal film menghasilkan $18 juta di box office, membuktikan bahwa konten streaming dan pengalaman teatrikal bisa berjalan berdampingan. Bagi EJAE, ini adalah validasi bahwa suara yang pernah ditolak kini menjadi suara yang didengar oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Peran EJAE sebagai Suara Penyanyi Karakter Rumi
EJAE adalah singing voice karakter Rumi di KPop Demon Hunters, sebuah peran yang ia dapatkan secara organik setelah tim produksi mendengar demo vokalnya dan menyadari bahwa karakter husky-low register-nya sangat cocok dengan karakter Rumi yang digambarkan sebagai workaholic perfectionist. Direktur Maggie Kang sengaja mencari vokal dengan register rendah untuk membedakan Rumi dari karakter girl group K-pop pada umumnya, dan EJAE adalah jawaban yang sempurna.
Kemiripan antara EJAE dan Rumi begitu mencolok hingga terasa seperti meta-narasi. Rumi adalah seorang idol yang terobsesi dengan kesempurnaan, tidak pernah merasa cukup baik, dan berjuang dengan insecurities di balik senyum panggungnya. EJAE, yang pernah menghabiskan 10 tahun mencoba menjadi “sempurna” menurut standar SM Entertainment, membawa pengalaman pribadi tersebut ke dalam setiap lirik dan setiap nada yang ia nyanyikan. Dalam sebuah wawancara dengan WIRED, EJAE mengakui bahwa ia menangis saat menulis dan merekam demo “Golden” karena liriknya terlalu mengenai perjalanannya sendiri sebagai trainee.
“Being perfect is such a big thing while training… I brought that into the lyrics. Every time I sing ‘Golden’, I am singing to my 16-year-old self who thought she wasn’t enough.”
— EJAE dalam wawancara eksklusif, 2025
Perbandingan dengan cast musik lainnya juga menarik. Audrey Nuna menyuarakan karakter Mira dengan gaya R&B yang lebih eksperimental, sementara Rei Ami membawa energi hip-hop untuk karakter Zoey. Namun, EJAE tetap menjadi jantung emosional film ini karena vokalnya yang paling menggambarkan perjuangan internal seorang artis — sesuatu yang tidak bisa dipalsukan oleh teknik vokal murni. Kombinasi ketiga penyanyi ini menciptakan harmoni yang unik dan merepresentasikan diversitas suara perempuan Asia-Amerika dalam musik pop.
Setelah kesuksesan film, EJAE tampil di berbagai panggung prestisius: Saturday Night Live (SNL) Season 51 premiere, The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, dan bahkan Coachella 2026. Penampilan di Coachella menjadi momen paling emosional karena ia membawakan “Golden” di depan ribuan orang yang menyanyikan setiap lirik bersama-sama — sebuah pengalaman yang ia gambarkan sebagai “penyembuhan terhadap luka-luka masa lalu”.
Diskografi dan Karya-Karya EJAE
Diskografi EJAE mencakup karya solo, featured appearances, soundtrack film, dan puluhan kredit songwriting untuk artis K-pop top. Sebagai solois, EJAE merilis single “In Another World” pada 2025, diikuti oleh “Time After Time” pada 2026. Ia juga berkontribusi dalam anthem resmi FIFA World Cup 2026 berjudul “DNA (More Than a Game)” — sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa namanya kini setara dengan artis global lainnya.
Namun, yang paling mengesankan adalah daftar kredit songwriting-nya. Dari EXID pada 2016 hingga aespa dan NMIXX pada 2024, EJAE telah membuktikan konsistensinya dalam menciptakan hit setiap tahun. Lagu “Psycho” untuk Red Velvet dan “Drama” serta “Armageddon” untuk aespa adalah bukti bahwa ia memiliki telinga musik yang tajam untuk melodi yang catchy namun tetap berkualitas artistik. Menurut ulasan Harper’s Bazaar, lagu-lagu EJAE secara diam-diam telah mendominasi lanskap K-pop selama beberapa tahun terakhir.
| Tahun | Artis | Lagu | Peran |
|---|---|---|---|
| 2016 | EXID | Hello | Songwriter |
| 2019 | Red Velvet | Psycho | Songwriter |
| 2020 | Taeyeon | Sorrow | Songwriter |
| 2021 | TWICE | Last Waltz | Songwriter |
| 2023 | aespa | Drama | Songwriter |
| 2024 | aespa | Armageddon | Songwriter |
| 2024 | NMIXX | DICE | Songwriter |
| 2025 | KPop Demon Hunters | Golden, How It’s Done, Your Idol, Takedown | Songwriter, Vocal |
Di luar kredit songwriting, EJAE juga tampil sebagai featured artist dalam lagu “Out of My Body” oleh Anyma pada 2025. Kolaborasi ini menunjukkan fleksibilitasnya dalam beradaptasi dengan berbagai genre, dari K-pop yang terstruktur hingga electronic music yang lebih eksperimental. Dengan manajemen energi dan pola istirahat yang cukup, EJAE membuktikan bahwa kesehatan fisik dan mental adalah fondasi yang tak tergantikan bagi kreativitas berkelanjutan.
Prestasi dan Penghargaan EJAE
EJAE memenangkan Academy Award, Golden Globe Award, dan Grammy Award 2026 untuk Best Original Song dengan lagu “Golden” dari KPop Demon Hunters. Triple Crown ini adalah pencapaian yang jarang diraih oleh musisi Asia, apalagi oleh seseorang yang pernah dianggap tidak memiliki “suara yang tepat” untuk industri musik. Namun, daftar penghargaannya tidak berhenti di situ.
Di ajang Grammy Awards 2026, selain memenangkan Best Song Written for Visual Media, “Golden” juga dinominasikan dalam kategori Song of the Year — sebuah pengakuan bahwa kualitas komposisinya setara dengan lagu-lagu pop terbaik di dunia. American Music Awards 2026 memberikan tiga penghargaan sekaligus: Song of the Year, Best Pop Song, dan Best Vocal Performance. ASCAP Pop Music Awards 2026 menganugerahkan Songwriter Award khusus untuk EJAE, mengakui kontribusi intelektualnya di balik masterpiece tersebut.
| Penghargaan | Tahun | Kategori | Hasil |
|---|---|---|---|
| Academy Awards | 2026 | Best Original Song | Won |
| Golden Globe Awards | 2026 | Best Original Song | Won |
| Grammy Awards | 2026 | Best Song Written for Visual Media | Won |
| Grammy Awards | 2026 | Song of the Year | Nominated |
| American Music Awards | 2026 | Song of the Year, Best Pop Song, Best Vocal Performance | Won (3x) |
| Annie Awards | 2025 | Outstanding Music in Feature | Won |
| MAMA Awards | 2025 | Best OST | Won |
| Melon Music Awards | 2025 | Best OST | Won |
| iHeartRadio Music Awards | 2026 | K-pop Song of the Year | Won |
Di ranah Asia, EJAE juga mendominasi. MAMA Awards 2025 dan Melon Music Awards 2025 sama-sama memberikan penghargaan Best OST untuk “Golden”. Japan Gold Disc Award 2026 menganugerahkan Song of the Year by Download & Streaming (Asia), menunjukkan bahwa popularitasnya melampaui batas Korea dan Amerika. Billboard Women in Music 2026 bahkan memberikan penghargaan khusus untuk grup Huntrix — formasi virtual yang ia perankan — sebagai Women of the Year. Daftar ini terus bertambah, dan setiap penghargaan adalah pengingat bahwa kegagalan di masa lalu tidak menentukan masa depan.
Fakta Menarik dan Kehidupan Personal EJAE
Di balik persona artis yang kini tampil di panggung paling bergengsi dunia, EJAE tetap mempertahankan sisi humanis yang membuat penggemarnya semakin terikat. Berikut adalah fakta-fakta menarik yang menggambarkan siapa EJAE sebenarnya di luar sorotan kamera dan lampu panggung.
- Garis Keturunan Seni: Kakeknya, Shin Young-kyun, adalah aktor legenda Korea yang membintangi lebih dari 300 film selama kariernya. EJAE pernah tampil di acara KBS bersama kakeknya pada 2011, menyanyikan “I Will Always Love You” karya Dolly Parton — sebuah momen yang menunjukkan bakat vokalnya sudah terlihat sejak remaja.
- Tunangan dan Kolaborator: EJAE bertunangan dengan Sam Kim, seorang audio engineer yang lulusan Berkeley. Bukan hanya pasangan romantis, tunangannya juga menjadi mentor teknis yang mengajarinya vocal production selama pandemi COVID-19. Hubungan mereka sempat berjarak jauh dan konflik tersebut justru menginspirasi lirik “Psycho”.
- Sahabat Berbulu: EJAE memiliki anjing Pomeranian bernama Honey yang sering muncul di akun Instagram pribadinya. Honey bahkan sempat “mendampingi” EJAE saat sesi rekaman virtual selama lockdown, menambah kesan bahwa kreativitas terbaik sering datang dari lingkungan yang nyaman dan penuh kasih sayang.
- Warna Favorit yang Serasi: Warna favorit EJAE adalah lavender — kebetulan sama persis dengan warna representasi karakter Rumi di KPop Demon Hunters. Kemiripan ini bukan rekayasa, melainkan kebetulan yang menunjukkan seberapa dalam koneksi personal antara EJAE dan karakter yang ia perankan.
- Dari Insecurity ke Kekuatan: Suara husky-low register yang pernah dianggap sebagai kelemahan di SM Entertainment kini menjadi trademark EJAE. Ia sempat dirundung insecurity berat selama bertahun-tahun, namun kini justru menjadi salah satu penyanyi paling dicari untuk proyek-proyek yang membutuhkan vokal dengan karakter unik.
- Momen Cameo: EJAE membuat cameo di SNL Season 51 premiere pada 2025, sebuah penampilan singkat yang membuat penggemar terkejut dan gembira. Ia juga tampil di Met Gala 2026, mengenakan busana desainer Korea yang memadukan unsur tradisional dengan estetika modern.
- Kontrak Baru: Pada 2025, EJAE menandatangani kontrak manajemen dengan WME (William Morris Endeavor) dan Prescription Songs, dua nama besar di industri musik global. Langkah ini menandakan transisinya dari songwriter lokal ke artis internasional dengan tim manajemen kelas dunia.
- Reaksi Emosional pada Penggemar: Dalam sebuah wawancara dengan Grammy.com, EJAE mengaku menangis ketika membaca komentar penggemar yang mengatakan bahwa lagu “Golden” menyelamatkan mereka dari depresi dan pikiran untuk menyerah. “I broke down, I just felt so honored,” ucapnya. Momen ini menunjukkan bahwa seni terbaik adalah seni yang menyembuhkan — sebuah prinsip yang sejalan dengan misi kesehatan holistik.
Kesimpulan: Dari Trainee Gagal Debut ke Pemenang Oscar dan Grammy
Perjalanan EJAE adalah bukti nyata bahwa kegagalan tidak pernah final — hanya sebuah redirect menuju tujuan yang lebih autentik. Dari trainee SM Entertainment yang di-drop setelah 10 tahun berlatih, hingga songwriter di balik layar yang menulis hit untuk Red Velvet dan aespa, dan akhirnya menjadi suara karakter Rumi yang membawanya meraih Oscar, Grammy, dan Golden Globe — setiap tahap adalah fondasi untuk pencapaian berikutnya. EJAE tidak hanya menulis ulang nasibnya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan Asia-Amerika di industri musik global yang selama ini didominasi oleh standar kecantikan dan suara yang sempit.
Bagi pembaca yang sedang mengalami masa-masa sulit atau merasa tidak cukup baik menurut standar orang lain, kisah EJAE menawarkan pelajaran berharga: kekuatanmu sering kali tersembunyi di balik kelemahan yang paling kamu takuti. Suara rendah dan husky yang pernah dianggap sebagai cacat kini menjadi aset paling berharganya. Tekanan mental yang hampir menghancurkannya kini menjadi bahan bakar untuk karya-karya yang menyembuhkan jutaan orang. Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses yang membutuhkan kesehatan mental yang terjaga serta dukungan sistemik yang tepat.
EJAE membuktikan bahwa kegagalan debut sebagai K-pop idol setelah 10 tahun training di SM Entertainment bukanlah akhir dari impian, melainkan awal dari perjalanan yang membawanya memenangkan Academy Award, Golden Globe, dan Grammy Award 2026. Dengan karya-karya baru yang terus bermunculan dan fanbase WINGS yang semakin berkembang, masa depan EJAE tampak lebih cerah dari sebelumnya — bukan karena ia menjadi sempurna, melainkan karena ia berani menjadi dirinya sendiri.
- Profil EJAE (Kim Eun-jae): Biodata, Perjalanan Karier, dan Fakta Menarik - Jun 13, 2026
- Transformasi Trax FM – Siap Jadi Sahabat Anak Muda Indonesia! - Jan 26, 2025
- Jawab Tantangan Digital, I-Radio Siap Bertransformasi! - Jan 26, 2025








