Teyana Taylor Ungkap Disebut “Bodoh” Saat Beralih dari Musik ke Film, Kini Buktikan Kesuksesan di Dunia Akting

2
Sumber: gettyimages

Teyana Taylor selama ini dikenal sebagai figur serba bisa di industri hiburan ia membangun reputasi sebagai penyanyi R&B dengan karakter vokal kuat, penari dengan karisma panggung tinggi, hingga kreator visual yang berani bereksperimen. Kini, namanya kembali ramai diperbincangkan bukan hanya karena karya terbarunya, tetapi juga karena pengakuan jujurnya tentang fase sulit dalam perjalanan karier.

Dalam wawancara untuk edisi Time Women of the Year, Taylor mengungkap bahwa ketika ia memutuskan meninggalkan jalur musik dan mengalihkan fokus ke dunia perfilman, banyak orang di sekelilingnya meragukan langkah tersebut. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan menyebut keputusan itu sebagai tindakan yang “bodoh”. Bagi sebagian pihak, meninggalkan industri musik saat namanya tengah dikenal luas dianggap sebagai risiko besar. Namun bagi Taylor, keputusan itu bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan panggilan kreatif yang sudah lama ia rasakan. Ia melihat akting sebagai ruang baru untuk berkembang, menantang diri, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang berbeda. Meski kritik dan keraguan datang bertubi-tubi, ia tetap teguh pada visinya.

Kini, waktu seakan menjadi pembela terbaiknya. Pencapaian dan pengakuan yang ia raih di dunia film membuktikan bahwa langkah beraninya bukan kesalahan, melainkan strategi jangka panjang yang matang. Dari sekadar eksperimen karier, transformasi Taylor menjelma menjadi kisah tentang keyakinan diri, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membuktikan kualitas lewat kerja keras.

Sumber: gettyimages

Awal perjalanan karier Teyana Taylor di industri hiburan bermula dari dunia musik, tempat ia membangun reputasi sebagai penyanyi R&B dengan karakter vokal yang khas sekaligus penari dengan energi panggung yang kuat. Namanya mulai dikenal luas di Amerika Serikat setelah merilis sejumlah proyek musik yang memperlihatkan gaya artistik berani dan autentik. Popularitasnya semakin melonjak ketika ia tampil dalam video musik “Fade” milik Kanye West yang dipresentasikan secara perdana di ajang MTV Video Music Awards 2016.

Penampilan tersebut menjadi momen ikonik yang memperkuat citranya sebagai entertainer total memadukan musik, tari, dan visual yang memikat. Namun di balik sorotan dan pujian publik, Taylor mengaku merasa tidak mendapatkan dukungan industri yang ia harapkan, terutama dalam hal pengembangan karier dan apresiasi terhadap kreativitasnya. Kekecewaan itu perlahan menumpuk hingga akhirnya pada 2020 ia memutuskan untuk mengambil langkah berani mundur dari dunia musik yang telah membesarkan namanya dan mengalihkan fokus ke bidang lain yang sejak lama menarik minatnya, yakni akting dan perfilman, sebuah keputusan yang kala itu dianggap berisiko namun kemudian membuka babak baru dalam perjalanan artistiknya.

Keputusan Teyana Taylor untuk meninggalkan dunia musik dan menekuni perfilman secara serius tidak datang tanpa konsekuensi. Di tengah posisi karier yang sedang kuat dan basis penggemar yang solid, langkah tersebut justru memicu gelombang kritik dari orang-orang terdekat maupun pelaku industri. Banyak yang menilai keputusannya sebagai tindakan ceroboh, bahkan menyebutnya “bodoh” karena dianggap meninggalkan sesuatu yang sudah pasti demi sesuatu yang belum tentu berhasil. Dalam wawancaranya bersama Time, Taylor secara terbuka mengungkap bagaimana komentar-komentar meremehkan itu sempat memenuhi sekelilingnya. “Everybody said it was a dumb decision”, tuturnya. Namun alih-alih goyah, ia justru merespons dengan keyakinan penuh terhadap visinya sendiri. “And I said, no, I’m going to be a great actress. One day, I’m going to be a great director”.

Pernyataan tersebut mencerminkan kepercayaan diri dan determinasi yang kuat, sekaligus menggambarkan tekanan besar yang ia hadapi. Tantangan itu bukan hanya soal membuktikan kemampuan di bidang baru, tetapi juga melawan ekspektasi publik yang sudah terlanjur mengidentifikasikannya sebagai musisi. Banyak pihak meyakini bahwa ia seharusnya bertahan di jalur musik karena dianggap lebih aman dan menjanjikan secara komersial. Namun bagi Taylor, bertahan di zona nyaman bukanlah pilihan. Ia memilih mengambil risiko demi pertumbuhan kreatif jangka panjang, meskipun harus menghadapi keraguan, skeptisisme, dan kemungkinan gagal. Keputusan kontroversial itu pada akhirnya menjadi titik balik penting yang membentuk narasi baru dalam perjalanan kariernya.

Sumber: gettyimages

Setelah memutuskan meninggalkan dunia musik, Teyana Taylor perlahan namun pasti mulai membangun fondasi baru di industri perfilman Hollywood. Ia tidak sekadar mencoba peruntungan lewat peran kecil, melainkan langsung terlibat dalam sejumlah proyek besar yang memberinya ruang untuk menunjukkan spektrum kemampuan aktingnya. Taylor tampil dalam film komedi populer Coming 2 America, sekuel dari film klasik Coming to America, yang mempertemukannya dengan jajaran aktor papan atas dan memperluas eksposurnya ke audiens global. Ia juga ambil bagian dalam remake White Men Can’t Jump, adaptasi modern dari film 1992 dengan judul yang sama, yang semakin menegaskan kehadirannya di arus utama perfilman Amerika.

Namun titik balik paling signifikan dalam perjalanan awalnya sebagai aktris datang lewat peran utama dalam drama independen A Thousand and One (2023), di mana penampilannya menuai pujian luas dari kritikus. Dalam film tersebut, Taylor memperlihatkan kedalaman emosi dan intensitas akting yang matang, membungkam keraguan banyak pihak terhadap transisi kariernya. Deretan proyek ini bukan sekadar langkah percobaan, melainkan fondasi penting yang membangun kredibilitasnya sebagai aktris serba bisa mampu bergerak dari komedi komersial hingga drama penuh nuansa serta menandai babak baru yang serius dalam evolusi artistiknya di Hollywood.

Puncak pembuktian karier Teyana Taylor di dunia film hadir lewat perannya sebagai Perfidia Beverly Hills dalam One Battle After Another (2025), sebuah film aksi-drama yang menjadi salah satu perbincangan terbesar sepanjang musim penghargaan. Dalam film tersebut, Taylor menampilkan performa yang berlapis menggabungkan ketangguhan, kerentanan emosional, dan karisma layar yang kuat, sehingga karakternya meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Sumber: gettyimages

Penampilannya tidak hanya mendapat respons positif secara komersial, tetapi juga pengakuan serius dari kalangan kritikus dan pelaku industri. Berkat peran ini, ia berhasil meraih nominasi di ajang Academy Awards untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik (Best Supporting Actress), sebuah pencapaian prestisius yang terasa semakin monumental mengingat beberapa tahun sebelumnya ia baru saja mengambil keputusan berani meninggalkan dunia musik demi mengejar akting. Tak hanya itu, film tersebut juga memperoleh sejumlah nominasi penting lainnya, termasuk Film Terbaik (Best Picture), memperkuat posisinya sebagai karya sinematik yang diperhitungkan. Kesuksesan ini menjadi bukti konkret bahwa langkah Taylor beralih karier bukan sekadar eksperimen, melainkan transformasi yang matang dan berdampak nyata di industri perfilman.

Setelah sempat menyatakan mundur dari industri yang membesarkan namanya, Teyana Taylor akhirnya kembali ke dunia musik pada 2025 dengan pendekatan yang jauh lebih matang dan terarah. Ia merilis album Escape Room, sebuah proyek yang menandai babak baru dalam perjalanan artistiknya. Album tersebut tidak hanya disambut hangat oleh penggemar lama, tetapi juga memperoleh pengakuan bergengsi lewat nominasi di ajang Grammy Awards untuk kategori Best R&B Album. Pencapaian ini menegaskan bahwa kepulangannya ke musik bukan sekadar langkah nostalgia atau upaya mengulang masa lalu, melainkan bentuk evolusi kreatif yang lahir dari pengalaman hidup yang lebih dalam.

Dalam Escape Room, Taylor menuangkan refleksi personal tentang cinta, patah hati, kehilangan, hingga proses penyembuhan diri. Lirik-liriknya terdengar lebih intim dan jujur, sementara aransemen musiknya terasa lebih terkendali namun emosional, mencerminkan kedewasaan sebagai seniman sekaligus individu. Ia tidak lagi tampil sekadar sebagai performer enerjik, melainkan sebagai storyteller yang menyampaikan kisah dengan kepekaan dan keaslian. Kembalinya Taylor ke ranah R&B membuktikan bahwa perjalanan menjauh dari musik justru memperkaya perspektifnya, menghasilkan karya yang lebih otentik dan mendapatkan apresiasi kritis yang lebih luas.

Sumber: gettyimages

Perjalanan karier Teyana Taylor dari dunia musik menuju perfilman bukan sekadar kisah tentang pergantian profesi, melainkan refleksi mendalam mengenai keteguhan hati, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan terhadap visi pribadi. Ketika banyak pihak meragukan bahkan menyebut keputusannya sebagai langkah yang “bodoh”, Taylor justru menjadikan skeptisisme itu sebagai bahan bakar untuk membuktikan kemampuannya. Transformasinya menunjukkan bahwa pertumbuhan artistik sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman dan menghadapi ketidakpastian.

Kini, dengan pengakuan dari ajang bergengsi seperti Academy Awards dan Grammy Awards, serta ambisinya untuk suatu hari meraih status EGOT, Taylor berdiri sebagai simbol evolusi kreatif yang autentik. Peran-perannya dalam berbagai film besar memperlihatkan kedalaman dan fleksibilitas bakatnya, sementara kiprahnya di musik tetap menunjukkan relevansi dan kualitas. Bagi penggemar musik maupun film, kisah Taylor menjadi inspirasi nyata bahwa terkadang keputusan yang paling dipertanyakan justru menjadi gerbang menuju pencapaian paling gemilang.