Warna bisa mengubah suasana dalam sekejap. Merah dapat terasa berani dan penuh energi, hijau membawa kesan lebih tenang, sementara biru mampu menciptakan pengalaman ruang yang sama sekali berbeda. Di tangan para desainer, warna bahkan tidak lagi sekadar menjadi elemen visual, tetapi dapat menentukan bagaimana seseorang bergerak, berinteraksi, dan merasakan sebuah ruang.
Pemikiran tersebut menjadi titik awal kehadiran The Lounge by CASA di Art Jakarta 2026. Berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, CASA Indonesia membawa tema “CHROMA”, sebuah eksplorasi tentang warna yang diterjemahkan menjadi pengalaman ruang melalui empat perspektif desain berbeda.
Empat studio yang terlibat adalah Studio Talk, K-Thengono Design Studio, Rumanara, dan Spatial Sonata. Masing-masing mendapatkan ruang untuk menerjemahkan warna melalui karakter, material, bentuk, hingga pengalaman spasial yang berbeda.
CHROMA, Saat Warna Tidak Lagi Sekadar Dekorasi
Dalam konteks The Lounge by CASA, istilah CHROMA merujuk pada kemurnian dan intensitas sebuah warna. Namun, konsep yang dibawa jauh lebih luas daripada sekadar menentukan palet warna untuk sebuah interior. Warna digunakan sebagai fondasi yang membentuk atmosfer, emosi, dan cara seseorang mengalami ruang.
Konsep visualnya mengambil inspirasi dari permainan Ludo, permainan yang identik dengan empat warna dan bentuk geometris yang sederhana. Dari sana, satu VIP Lounge dikembangkan menjadi empat area berbeda: DECLARATION, EXPRESSION, DIMENSION, dan ILLUSION.
Menariknya, keempat area tersebut tidak dipaksa memiliki bahasa desain yang seragam. Justru perbedaan menjadi bagian penting dari pengalaman yang ingin dibangun. Satu warna dapat memunculkan karakter yang tegas, warna lainnya terasa playful, sementara interpretasi lain menggunakan warna untuk menciptakan kedalaman dan bahkan ilusi.
DECLARATION: Merah yang Bold dan Playful
Area pertama, DECLARATION, dipercayakan kepada Studio Talk. Studio yang berbasis di Jakarta dan Bali ini didirikan oleh Talisa Danubrata, Adi Janitra, Anissa Santoso, Levina Limanjaya, dan Karina Wiriadidjaja. Pendekatan desain mereka dikenal dengan keseimbangan antara fungsi, material, emosi, serta pengalaman manusia. Untuk The Lounge by CASA, karakter tersebut diwujudkan melalui warna merah dengan pendekatan yang bold, dramatic, dan graphic.
Inspirasi permainan Ludo kembali terlihat melalui penggunaan checkerboard flooring yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga membantu membagi ruang menjadi beberapa zona, termasuk dining corner, lounge corner, dan kids corner. Studio Talk menggambarkan pendekatannya sebagai perpaduan karakter fun, playful, dan family friendly, dengan sebuah playful twist yang menjadi bagian penting dari ruang tersebut. Hasilnya adalah interpretasi warna merah yang tidak berhenti pada kesan berani, tetapi juga mempunyai sisi sosial dan menyenangkan.
EXPRESSION: Eksplorasi Kuning dari Childhood Memory

Jika DECLARATION terasa tegas, EXPRESSION menghadirkan energi yang lebih spontan. Area ini dirancang oleh K-Thengono Design Studio, studio berbasis di Jakarta Utara yang didirikan oleh Kelvin Thengono. Pendekatannya memadukan bentuk-bentuk fluid, komposisi spasial yang dinamis, serta pertemuan antara seni, craftsmanship, dan arsitektur. Warna kuning kemudian menjadi medium untuk membawa pengalaman tersebut.
Salah satu gagasan yang muncul adalah Gravity as a Sculpture, yang mengambil inspirasi dari childhood memory berupa bed fortress. Material waste fabric dimanfaatkan untuk membentuk instalasi yang berinteraksi dengan gravitasi. Ruangnya sendiri dibagi menjadi dua pengalaman. Satu bagian dirancang lebih intim dan remang, sementara area lain dibuat seolah terkompresi secara horizontal untuk membangun sebuah imaginary world. Alih-alih menggunakan kuning sekadar untuk memberikan kesan ceria, area ini memperlihatkan bagaimana memori masa kecil dapat diterjemahkan menjadi pengalaman desain yang terasa eksperimental.
DIMENSION: Nuansa Hijau yang Membawa Alam ke Dalam Ruang
Berbeda lagi dengan DIMENSION yang dirancang oleh Rumanara. Studio yang didirikan oleh Dwi Andika tersebut menggunakan kedalaman, lapisan, material, dan volume sebagai elemen utama desainnya. Pendekatannya memadukan kehangatan organik dengan tekstur berlapis serta perhatian terhadap bagaimana manusia bergerak dan merasakan sebuah ruang. Inspirasi visualnya datang dari lukisan Green Wheat Field with Cypress karya Vincent van Gogh.
Warna hijau kemudian dikembangkan menjadi pengalaman ruang yang terinspirasi dari suasana backyard yang dekat dengan alam dan terasa santai. Konsepnya menyerupai taman dengan paviliun, sebuah tempat di mana pengunjung dapat duduk, berbincang, sekaligus menikmati karya seni. Dalam satu ruang, arsitektur, interior, produk, landscape, serta seni dipertemukan menjadi satu pengalaman yang utuh.
Di sini, warna hijau bukan hanya sesuatu yang terlihat. Warna tersebut menjadi alat untuk membangun rasa tenang, kedalaman, sekaligus hubungan antara manusia dan ruang.
ILLUSION: Ketika Kabinet Berubah Menjadi Arsitektur

Interpretasi terakhir datang melalui ILLUSION dari Spatial Sonata yang dipimpin oleh Eric Ekaputra dan Ilka Jovita. Alih-alih memulai konsepnya dari sebuah bentuk arsitektur yang rumit, Spatial Sonata justru memilih objek yang sangat familiar: kabinet.
Elemen-elemen kabinet seperti panel, rak, permukaan, dan struktur dipisahkan dari bentuk aslinya, kemudian dirangkai kembali menjadi sebuah komposisi baru. Furnitur yang biasanya berdiri sebagai satu objek akhirnya berkembang menjadi bagian dari arsitektur, mulai dari dinding dan partisi hingga display dan area duduk. Warna biru dipilih untuk mewakili konsep illusion.
Ide besarnya disebut sebagai controlled chaos: sebuah box yang pada awalnya terlihat rapi, kemudian seolah “meledak” dan mengubah perilaku ruang. Meski memiliki pendekatan yang eksperimental, ruang tersebut tetap dirancang multifungsi. Pengunjung dapat menggunakannya untuk meeting, berbincang, maupun berinteraksi.
Empat Warna, Empat Pengalaman yang Berbeda
Menariknya, kekuatan CHROMA justru terlihat ketika keempat pendekatan tersebut hadir secara bersamaan. Ada ruang yang terasa bold dan grafis, ruang dengan energi lebih fluid dan ekspresif, area yang mengandalkan lapisan serta suasana kontemplatif, hingga pendekatan yang sengaja mempermainkan persepsi.
Semua mempunyai identitas yang berbeda, tetapi tetap bertemu dalam satu gagasan warna dapat menjadi sesuatu yang dialami, bukan hanya dilihat. Managing Editor CASA Indonesia, Raisa Benaya Ranti, menjelaskan bahwa kolaborasi pada tahun kedua The Lounge by CASA menjadi semakin besar dengan melibatkan empat expert yang memiliki karakter berbeda.
The Lounge juga diharapkan menjadi ruang bagi arsitek dan desainer Indonesia untuk bereksperimen serta menerjemahkan ide menjadi sesuatu yang dapat dirasakan secara langsung. Sementara itu, Direktur MRA Media Mita Soedarjo menyoroti peran CASA Indonesia sebagai ruang untuk mengangkat berbagai ide, karya, dan perspektif kreatif sekaligus mempertemukannya dengan komunitas dan audiens yang lebih luas.
The Lounge by CASA dan Pertemuan Seni dengan Desain

Kehadiran The Lounge by CASA juga terasa relevan dengan konteks Art Jakarta sendiri. Art Jakarta mempertemukan galeri, seniman, kolektor, institusi budaya, hingga pelaku industri kreatif dalam sebuah ekosistem seni kontemporer. VIP Lounge kemudian menjadi salah satu titik sosial tempat berbagai figur dari dunia seni, desain, dan kolektor bertemu sepanjang penyelenggaraan pameran.
Melalui CHROMA, CASA membawa desain lebih jauh dari fungsi interior semata. Desain berubah menjadi sebuah pengalaman sesuatu yang dapat disentuh secara emosional, ditafsirkan dengan cara berbeda, dan berkembang ketika bertemu dengan orang-orang yang berada di dalam ruang tersebut. Dan mungkin itulah hal paling menarik dari CHROMA. Empat warna yang terlihat sederhana pada akhirnya dapat menghadirkan empat cerita yang benar-benar berbeda.








