Dalam wawancara terbaru yang langsung menyita perhatian media global, Zayn Malik akhirnya angkat bicara mengenai kisah cintanya dengan sang mantan kekasih, Gigi Hadid. Penyanyi asal Inggris yang dikenal sebagai mantan personel One Direction itu mengungkap fakta mengejutkan tentang hubungan mereka yang selama ini dianggap sebagai salah satu romansa selebritas paling ikonik di dunia hiburan. Meski menjalin hubungan selama bertahun-tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan, Zayn Malik secara jujur mengaku tidak yakin apakah dirinya pernah benar-benar jatuh cinta kepada supermodel internasional Gigi Hadid, seperti yang selama ini diyakini publik dan penggemar.
Hubungan Zayn Malik dan Gigi Hadid pertama kali menarik perhatian publik sekitar 2015–2016, ketika keduanya sedang berada di puncak awal karier sebagai figur publik berskala global, Zayn sebagai bintang pop internasional pasca One Direction, dan Gigi sebagai supermodel papan atas dunia. Kisah asmara mereka berlangsung secara putus-nyambung (on-off) selama kurang lebih enam tahun, menjadikannya salah satu hubungan selebritas paling disorot dan dibicarakan dalam satu dekade terakhir. Sepanjang perjalanan hubungan tersebut, Zayn dan Gigi harus menghadapi tekanan besar dari sorotan media dan publik, mulai dari kemunculan bersama di berbagai acara karpet merah, dukungan terbuka terhadap karier masing-masing, hingga kehidupan pribadi yang kerap menjadi konsumsi media hiburan global.
Hubungan itu mencapai fase penting ketika keduanya menyambut kelahiran anak perempuan mereka, Khai, pada September 2020, yang semakin memperkuat citra mereka sebagai pasangan selebritas keluarga muda. Namun, di balik momen bahagia tersebut, dinamika hubungan mereka tetap penuh tantangan hingga akhirnya resmi berakhir pada 2021, dengan perpisahan yang diwarnai kontroversi, termasuk tuduhan yang melibatkan anggota keluarga Hadid terhadap Zayn Malik, tuduhan yang dibantah oleh sang penyanyi, tetapi tetap berujung pada hukuman percobaan dan kewajiban mengikuti kursus manajemen kemarahan, menandai babak akhir dari salah satu kisah cinta paling kompleks di dunia hiburan internasional.

Pengakuan mengejutkan tersebut disampaikan Zayn Malik dalam wawancara eksklusif bersama Alex Cooper di podcast populer Call Her Daddy yang dirilis pada 11 Februari 2026, dan langsung memicu perbincangan luas di kalangan penggemar serta media hiburan internasional. Saat membahas hubungan masa lalunya, khususnya dengan Gigi Hadid, Zayn memberikan jawaban yang jujur dan tidak terduga dengan menyatakan, ““I will always love her, because she is the reason my child exists in this world, and I respect her deeply. But I don’t know whether I ever truly fell in love with her”.
Menurut Zayn, selama masa pacaran mereka, perasaan yang ia rasakan kemungkinan lebih banyak didorong oleh ketertarikan fisik, intensitas emosi, dan dinamika hubungan di usia muda, yang pada saat itu sulit dibedakan dari definisi cinta sejati. Seiring bertambahnya usia dan melalui berbagai pengalaman hidup yang membentuk kedewasaan emosionalnya, Zayn mengaku kini memiliki pemahaman yang jauh berbeda tentang makna cinta yang sesungguhnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keraguannya terhadap perasaan romantis di masa lalu tidak menghapus rasa sayang, penghormatan, dan tanggung jawabnya kepada Gigi Hadid, terutama dalam perannya sebagai ibu dari anak mereka, yang tetap menjadi prioritas utama dalam kehidupannya saat ini.
Pernyataan Zayn Malik tersebut secara luas memicu diskusi publik mengenai perbedaan antara “mencintai” dan “jatuh cinta” dalam hubungan romantis, sebuah topik yang kerap muncul dalam dinamika hubungan dewasa. Sejumlah pengamat hubungan dan psikolog menyebut bahwa seseorang dapat memiliki rasa peduli, kasih sayang mendalam, keterikatan emosional, serta komitmen, terutama ketika dua individu telah berbagi pengalaman besar seperti membangun keluarga atau memiliki anak bersama, tanpa harus mengalami perasaan jatuh cinta secara romantis atau cinta sejati.

Perspektif ini menjadi semakin relevan dalam konteks pengakuan Zayn Malik, yang menegaskan bahwa meski ia menyimpan rasa hormat dan kasih sayang besar terhadap Gigi Hadid sebagai ibu dari anaknya, ia tetap meragukan apakah perasaan yang ia alami di masa lalu benar-benar dapat dikategorikan sebagai cinta sejati dalam pengertian yang ia pahami sekarang, seiring bertambahnya kedewasaan emosional dan perubahan cara pandangnya terhadap makna cinta.
Meski hubungan romantis Zayn Malik dan Gigi Hadid telah berakhir, keduanya tetap menjaga komunikasi dan kerja sama yang baik demi kepentingan anak mereka, Khai, yang menjadi prioritas utama dalam kehidupan masing-masing. Dalam sejumlah wawancara sebelumnya, Gigi Hadid menegaskan bahwa ia dan Zayn saling mendukung dalam peran sebagai orang tua, memperlihatkan komitmen untuk membangun pola co-parenting yang sehat, dewasa, dan saling menghormati, terlepas dari berakhirnya hubungan asmara mereka.
Sikap ini pun mendapat sorotan positif dari publik dan media, terutama di tengah pengakuan jujur Zayn Malik mengenai refleksi pribadinya tentang cinta dan hubungan masa lalu, yang dinilai tetap menunjukkan tanggung jawab emosional serta kedewasaan dalam menyeimbangkan kehidupan pribadi, peran sebagai ayah, dan kepentingan keluarga kecil mereka.

Pengakuan Zayn Malik yang menyatakan bahwa ia tidak yakin pernah benar-benar jatuh cinta kepada Gigi Hadid, meskipun keduanya telah menjalin hubungan dalam jangka waktu panjang, berbagi berbagai momen penting, dan dikaruniai seorang anak bersama, mencerminkan pergeseran dan kedewasaan pemahaman tentang makna cinta seiring berjalannya waktu. Pernyataan tersebut tidak hanya menjadi sorotan dalam konteks berita selebritas internasional, tetapi juga membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang bagaimana seseorang dapat meninjau kembali hubungan masa lalunya dengan kejujuran, keterbukaan, dan kedewasaan emosional tanpa meniadakan rasa hormat terhadap orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Meski pengakuan ini menuai beragam reaksi dari publik dan penggemar, satu hal yang tetap jelas dan konsisten terlihat adalah komitmen Zayn Malik dan Gigi Hadid dalam menjalani peran mereka sebagai orang tua bagi Khai, yang menunjukkan bahwa cinta tidak selalu harus berwujud hubungan romantis. Dalam konteks ini, rasa tanggung jawab, penghormatan, dan kerja sama sebagai co-parent justru menjadi bentuk cinta yang lebih dewasa dan bermakna, sebuah ikatan yang melampaui romansa, sekaligus menegaskan bahwa akhir sebuah hubungan tidak selalu berarti berakhirnya kepedulian dan kasih sayang.








