Butterfly Cut, Model, Cocok untuk Siapa, dan Cara Styling

1
Sumber: Colorbox

Pernah membawa foto rambut berlayer ke salon, lalu hasil akhirnya justru terasa terlalu tipis atau layer depan berhenti di posisi yang kurang pas? Potongan rambut butterfly memang terlihat effortless di foto, tetapi hasil bagusnya sangat bergantung pada posisi layer, panjang rambut, tekstur, dan seberapa banyak volume yang ingin kamu pertahankan.

Gaya ini menarik karena kamu bisa mendapatkan perubahan yang cukup terasa tanpa harus memangkas panjang rambut secara drastis. Kalau kamu masih menimbang panjang yang paling nyaman untuk aktivitas sehari-hari, referensi model rambut sebahu juga bisa membantu membandingkan proporsi sebelum masuk ke versi butterfly.

Yang perlu dicari bukan sekadar foto paling cantik. Lebih berguna kalau kamu tahu layer terpendek sebaiknya jatuh di mana, apakah poni benar-benar dibutuhkan, bagaimana rambut akan terlihat tanpa blowout, dan detail apa yang perlu disebutkan saat konsultasi dengan hairstylist.

Poin Utama

  • Butterfly cut memadukan face-framing layer yang lebih pendek dengan layer panjang untuk menjaga movement tanpa kehilangan banyak panjang.
  • Bentuk wajah memengaruhi posisi layer terpendek; wajah bulat, kotak, hati, panjang, dan oval tidak perlu memakai pola yang sama.
  • Rambut tipis biasanya lebih aman dengan layer lebih sedikit dan panjang, sedangkan rambut tebal bisa memakai internal layering untuk mengurangi bulk.
  • Curtain bangs bersifat opsional. Kunci utamanya tetap pada transisi layer dan cara layer membingkai wajah.
  • Foto referensi akan lebih berguna jika tekstur dan density rambut model mendekati kondisi rambutmu sendiri.

Apa Itu Butterfly Haircut dan Apa Ciri Khasnya?

butterfly haircut dengan layer panjang membingkai wajah

Referensi dari Lakshmi Hair Studio ini memperlihatkan karakter utama butterfly cut: face-framing yang ringan, panjang utama tetap terjaga, dan layer yang bergerak saat rambut ditata.

Butterfly haircut adalah layered haircut yang menggabungkan layer pendek di sekitar wajah dengan layer lebih panjang di bagian bawah. Struktur itu menciptakan movement, volume, dan ilusi rambut depan yang lebih pendek sambil mempertahankan sebagian besar panjang rambut. Efek akhirnya terlihat ringan, bertingkat, dan bergerak seperti “sayap” saat rambut ditata.

Hairstylist Sunnie Brook menjelaskan kepada Allure bahwa istilah butterfly cut ia gunakan bertahun-tahun lalu untuk klien yang ingin perubahan tanpa kehilangan banyak panjang. Versi modernnya juga mengambil nuansa dari rambut bervolume era 1970-an dan 1990-an, lalu dibuat lebih wearable dengan face-framing yang lembut.

Ciri paling mudah dikenali ada pada dua zona panjang. Bagian depan memiliki layer yang lebih pendek, sering dimulai sekitar tulang pipi, dagu, atau sedikit di bawahnya. Bagian belakang tetap panjang dan menyatu, jadi hasilnya tidak terlihat seperti dua potongan yang terpisah. Inilah alasan butterfly bisa memberi sensasi “potong pendek” dari depan tanpa benar-benar melakukan big chop.

  • Face-framing jelas. Layer depan dibuat untuk mengarahkan perhatian ke mata, tulang pipi, atau garis rahang.
  • Panjang utama tetap terasa. Layer bawah menjaga rambut tetap terlihat panjang dan penuh.
  • Movement lebih penting daripada jumlah layer. Terlalu banyak layer belum tentu membuat hasilnya lebih bagus, terutama pada rambut fine.
  • Poni tidak wajib. Curtain bangs bisa memperkuat framing, tetapi butterfly cut tetap bisa bekerja tanpa poni.

Butterfly Cut vs Layer Biasa vs Wolf Cut: Apa Bedanya?

Untuk membaca struktur butterfly cut dengan lebih jelas, karya hairstylist @ashleymanterhair ini bisa dijadikan acuan visual pada transisi layer depan dan panjang utama yang tetap menyatu.

Butterfly cut tetap termasuk layered haircut, tetapi distribusi layer-nya lebih spesifik daripada layer biasa dan tampil lebih polished dibanding wolf cut. Butterfly menonjolkan face-framing yang pendek lalu menyambung ke panjang utama, sementara wolf cut sengaja mengejar tekstur yang lebih choppy, shaggy, dan kontras.

Kalau kamu bertanya, Apa perbedaan butterfly cut dan layer cut? jawabannya ada pada struktur. “Layer cut” adalah istilah besar yang bisa berarti banyak teknik. Butterfly adalah salah satu versi layer dengan fokus kuat pada frame wajah, lift di area atas, serta transisi ke layer panjang yang tetap menjaga perimeter.

Apa beda butterfly cut, layer biasa, dan wolf cut?
Aspek Butterfly Cut Layer Biasa Wolf Cut
Kesan Soft, bouncy Fleksibel Edgy, tousled
Layer Face-frame + layer panjang Bervariasi Choppy dan shaggy
Panjang utama Banyak dipertahankan Tergantung teknik Bisa lebih disconnected
Styling Blowout atau natural Bervariasi Textured, messy
Paling pas untuk Volume tanpa big chop Layer serbaguna Statement look

Pilihan paling aman tergantung hasil yang kamu cari. Kalau ingin rambut terlihat lebih hidup tetapi tetap rapi, butterfly biasanya paling mudah dibawa ke gaya sehari-hari. Kalau ingin tekstur yang sengaja “berantakan” dan karakter lebih kuat, wolf cut akan terasa lebih tepat.

Cara Menyesuaikan Butterfly Cut dengan Bentuk Wajah dan Jenis Rambut

Karya Nicolas Flores ini menunjukkan bagaimana face-framing dan panjang layer dapat diatur untuk membentuk proporsi wajah tanpa membuat potongan terlihat terlalu berat.

Butterfly cut dapat disesuaikan untuk banyak bentuk wajah, tetapi posisi layer terpendek sebaiknya tidak disamaratakan. Wajah bulat biasanya membutuhkan garis yang lebih memanjang, wajah kotak diuntungkan oleh layer yang lebih lembut, sementara wajah hati dapat memakai fullness di dekat dagu untuk membuat proporsi terasa lebih seimbang.

Butterfly haircut cocok untuk wajah apa? Secara praktis, oval memberi ruang paling fleksibel karena banyak posisi layer bekerja dengan baik. Pada wajah bulat, layer yang jatuh sedikit di bawah dagu membantu membentuk arah vertikal. Untuk wajah kotak, wispy layer di sekitar rahang bisa mengurangi kesan tegas. Wajah panjang bisa memakai face-framing yang lebih tinggi atau curtain bangs agar proporsinya tidak semakin memanjang.

Bagaimana menempatkan layer berdasarkan bentuk wajah?
Kondisi Penyesuaian Efek Visual
Wajah bulat Layer depan di bawah dagu Membuat garis wajah lebih panjang
Wajah kotak Layer lembut di sekitar rahang Melembutkan sudut
Wajah hati Volume mendekati dagu Menyeimbangkan bagian bawah wajah
Wajah panjang Face-frame lebih tinggi + poni opsional Memberi kesan lebih lebar
Wajah oval Layer lebih fleksibel Menjaga proporsi seimbang

Ada satu hal yang sering terlewat: bentuk wajah bukan satu-satunya variabel. Density rambut menentukan seberapa banyak layer yang masih aman, sedangkan tekstur menentukan bagaimana layer akan jatuh setelah rambut kering. Jadi foto referensi sebaiknya diperlakukan sebagai arah, bukan template yang harus disalin persis.

10 Inspirasi Butterfly Cut yang Bisa Dicoba

Sebagai salah satu inspirasi styling, Dimitris Giannetos menampilkan C-curl butterfly look yang memperjelas arah layer dan memberi finish lembut serta polished.

Versi terbaik butterfly cut bukan yang paling banyak layer, melainkan yang paling sesuai dengan panjang, density, dan rutinitas styling kamu. Sepuluh variasi ini memberi spektrum dari rambut panjang sampai pendek, dengan opsi poni, natural texture, dan finish yang berbeda.

  1. Butterfly Cut Panjang Klasik

    Untuk Model rambut Butterfly Cut panjang, layer bisa dimulai sekitar dagu atau collarbone lalu mengalir ke bagian bawah. Versi ini paling cocok kalau kamu masih ingin melihat rambut panjang sebagai fitur utama, bukan sekadar “sisa” setelah layering.

    Blowout lembut akan membuat transisi layer terlihat jelas, tetapi bentuk dasarnya tetap harus bagus saat rambut jatuh natural. Minta stylist menjaga perimeter bawah agar ujung tidak terasa terlalu kosong.

  2. Butterfly Cut Sebahu

    Model Rambut Butterfly Cut Sebahu memberi siluet yang lebih ringan dan compact. Panjang ini cukup untuk menampilkan perbedaan antara face-framing dan layer bawah, tetapi waktu mencuci serta mengeringkannya biasanya terasa lebih praktis daripada versi panjang.

    Jaga agar layer terpendek tidak naik terlalu tinggi bila kamu masih ingin rambut mudah diikat. Pada rambut medium, selisih beberapa sentimeter saja bisa mengubah hasil dari soft butterfly menjadi shaggy.

  3. Short Butterfly Cut

    Potongan rambut butterfly pendek biasanya diterjemahkan sebagai bob atau lob berlayer dengan face-framing yang lebih terkontrol. Efek “dua panjang” tidak sedramatis versi long hair, tetapi gerakan di sekitar wajah tetap bisa terasa.

    Versi pendek cocok untuk kamu yang ingin rambut ringan, tetapi tetap perlu memastikan crown tidak dipotong terlalu pendek. Kalau tidak, siluetnya bisa bergeser ke shag atau wolf cut.

  4. Butterfly Cut dengan Curtain Bangs

    Curtain bangs menyambungkan poni ke face-framing layers, jadi area mata dan tulang pipi terasa lebih terdefinisi. Ini pilihan bagus kalau kamu memang suka rambut depan yang punya arah saat dibelah tengah.

    Poni tetap opsional. Kalau kamu tidak suka rambut menyentuh wajah atau tidak ingin rutin menata poni, layer depan yang dimulai dari dagu masih bisa memberi karakter butterfly tanpa fringe.

  5. Butterfly Cut dengan Wispy Bangs

    Wispy bangs memberi detail lebih airy daripada curtain bangs penuh. Untaian tipis di depan bisa menambah softness, terutama kalau keseluruhan layer dibuat ringan dan tidak terlalu berat di crown.

    Kuncinya ada pada density poni. Pada rambut fine, mengambil terlalu banyak rambut untuk area fringe justru bisa mengurangi fullness di sisi kepala.

  6. Butterfly Cut dengan Face-Framing Layers

    Versi ini menaruh fokus paling besar pada bagian depan, sementara layer belakang dibuat lebih minimal. Cocok kalau kamu ingin perubahan terlihat jelas dari depan tetapi masih ingin panjang dan density bagian belakang terasa familiar.

    Saat konsultasi, tentukan titik pertama layer: cheekbone, chin, atau below-chin. Detail kecil ini jauh lebih berguna daripada hanya menunjukkan nama haircut.

  7. Wavy Butterfly Cut

    Natural waves memberi dimensi pada layer tanpa harus selalu menciptakan curl baru dengan alat panas. Saat potongannya tepat, gelombang rambut bisa membantu memisahkan tiap layer dan menghasilkan movement yang lebih organik.

    Hindari produk terlalu berat kalau rambut mudah lepek. Tujuannya menjaga wave tetap punya ruang untuk bergerak, bukan membuat semua layer menempel menjadi satu bentuk.

  8. Curly Butterfly Cut

    Pada rambut keriting, layer perlu mengikuti curl pattern dan shrinkage. Panjang saat basah bisa berbeda cukup jauh dari posisi akhir setelah kering, jadi konsultasi tentang cara rambutmu menyusut jauh lebih penting dibanding menyamakan panjang dengan foto rambut lurus.

    Hasil terbaik terasa ringan tetapi tetap punya shape. Terlalu banyak layer pendek dapat membuat volume menumpuk di area yang tidak kamu inginkan.

  9. Butterfly Cut dengan C-Curl

    C-curl membuat ujung layer melengkung lembut ke dalam atau keluar sehingga hasilnya terlihat polished. Finish ini cocok untuk rambut medium sampai panjang dan bekerja baik ketika kamu ingin gaya rapi untuk kantor, dinner, atau acara formal.

    Kamu tidak perlu membentuk semua helai. Fokus pada face-framing dan beberapa layer terluar sudah cukup untuk membuat struktur haircut terlihat.

  10. Soft Butterfly untuk Rambut Tipis

    Rambut fine lebih aman dengan layer panjang, jumlah layer lebih sedikit, dan perimeter yang tetap padat. Tujuannya bukan menghilangkan banyak berat, melainkan menciptakan movement di depan tanpa membuat ujung terlihat jarang.

    Ini versi yang sering paling masuk akal untuk daily wear. Kamu tetap mendapat framing, tetapi tidak membayar efek bouncy dengan kehilangan visual density di bagian bawah.

Butterfly Cut untuk Rambut Tipis, Tebal, Lurus, Bergelombang, dan Keriting

Untuk rambut bertekstur, referensi dari curl specialist Michael Gilliatt ini membantu melihat bagaimana layer dapat mengikuti curl pattern tanpa menghilangkan bentuk alami rambut.

Rambut tipis, tebal, lurus, wavy, dan curly sama-sama bisa memakai butterfly cut, tetapi jumlah serta posisi layer harus berbeda. Kesalahan paling umum adalah memperlakukan “jenis rambut” sebagai satu hal, padahal texture dan density adalah dua variabel terpisah.

Panduan L’Oréal Paris 2026 menekankan bahwa rambut fine sebaiknya menghindari ujung yang terlalu banyak dirazor karena dapat terlihat makin wispy. Pada rambut tebal, internal layering justru berguna untuk mengurangi bulk tanpa mengubah perimeter secara berlebihan. Untuk curls, shrinkage dan penempatan curl pattern perlu masuk ke keputusan potong.

Bagaimana menyesuaikan butterfly cut dengan tipe rambut?
Tipe Rambut Penyesuaian Yang Perlu Dihindari
Fine/tipis Layer lebih panjang dan sedikit Over-layering, ujung terlalu razored
Tebal Internal layer untuk mengurangi bulk Berat menumpuk di bawah
Lurus Face-frame jelas, styling ringan Layer terlalu tipis tanpa movement
Wavy Ikuti pola gelombang natural Produk terlalu berat
Curly/coily Hitung shrinkage dan curl pattern Menyalin pola layer rambut lurus

Kalau rambut terasa semakin tipis bukan hanya karena teksturnya, tetapi karena jumlah rambut yang rontok meningkat atau belahan makin lebar, pisahkan isu haircut dari kondisi scalp dan folikel. Panduan tentang apakah rambut rontok tumbuh kembali bisa membantu membaca tanda yang memang perlu perhatian lebih lanjut.

Cara Meminta Butterfly Cut ke Hairstylist agar Hasilnya Sesuai

konsultasi hairstylist sebelum membuat butterfly cut

Referensi salon dari @eddiearthursalon ini bisa kamu gunakan saat konsultasi untuk menunjukkan bentuk layer, panjang yang dipertahankan, dan arah face-framing yang kamu inginkan.

Jangan hanya berkata “saya mau butterfly cut”; jelaskan panjang yang ingin dipertahankan, titik layer terpendek, intensitas face-framing, kondisi rambut, dan kebiasaan styling. Nama haircut bisa dipahami berbeda oleh setiap stylist, sedangkan detail visual memberi target yang jauh lebih konkret.

  1. Tentukan panjang yang wajib dipertahankan

    Tunjukkan batas terpendek yang masih kamu anggap aman. Kalau ingin panjang tetap melewati bahu atau dada, sebutkan sebelum stylist mulai membangun layer.

  2. Pilih posisi layer terpendek

    Cheekbone, dagu, bawah dagu, dan collarbone menghasilkan framing berbeda. Pilih berdasarkan bentuk wajah sekaligus seberapa sering kamu mengikat rambut.

  3. Jelaskan seberapa kuat face-framing yang kamu mau

    Ada yang ingin layer depan dramatis, ada yang hanya butuh sedikit movement. Gunakan tangan untuk menunjukkan area wajah yang ingin dibingkai agar interpretasinya lebih jelas.

  4. Ceritakan texture, density, dan rutinitas styling

    Kalau kamu jarang blow-dry, bilang sejak awal. Hairstylist bisa membuat versi yang lebih realistis untuk natural fall, bukan potongan yang baru terlihat “jadi” setelah styling penuh.

  5. Bawa foto referensi yang relevan

    Cari foto depan, samping, dan belakang bila memungkinkan. Lebih penting lagi, pilih model dengan texture dan density rambut yang mendekati rambutmu, supaya ekspektasi visualnya masuk akal.

Kalimat sederhana yang bisa kamu gunakan: “Saya ingin mempertahankan panjang bawah, layer terpendek mulai sedikit di bawah dagu, lalu menyatu ke layer panjang. Rambut saya cenderung fine, jadi saya tidak ingin terlalu banyak weight removal.” Kalimat seperti ini memberi stylist parameter, bukan sekadar nama tren.

Kalau ingin memahami bagaimana struktur layer dibangun, tutorial dari Kenra Professional berikut memperlihatkan proses potong secara step-by-step. Gunakan sebagai referensi komunikasi dengan stylist, bukan keharusan untuk memotong sendiri di rumah.

Cara Styling Butterfly Cut agar Layer Terlihat Bouncy

cara styling butterfly cut dengan round brush

Keshaun Williamson (@theassassin) memperlihatkan finish feathered yang relevan untuk memahami bagaimana butterfly cut terlihat lebih hidup saat layer diberi arah dan bounce.

Butterfly cut tidak harus selalu di-styling, tetapi efek winged dan bouncy paling terlihat saat face-framing diberi arah menjauh dari wajah. Kamu bisa memakai round brush dan blow dryer, blow-dry brush, roller, atau alat panas lain sesuai hasil yang diinginkan.

  1. Mulai dari rambut lembap dan terlindungi

    Gunakan heat protectant sebelum memakai panas. Rambut tidak perlu terlalu basah; kondisi lembap biasanya lebih mudah diarahkan dan membuat proses blow lebih efisien.

  2. Bangun lift di akar

    Angkat bagian crown dengan round brush sambil mengarahkan udara dari akar ke ujung. Jangan menumpuk terlalu banyak produk karena volume bisa cepat turun.

  3. Arahkan layer depan menjauh dari wajah

    Gerakan ini yang paling cepat membuat butterfly effect terbaca. Putar brush keluar pada face-framing, lalu biarkan rambut dingin sebentar sebelum dilepas supaya bentuknya bertahan lebih lama.

  4. Pilih finish sesuai rutinitas

    Untuk low effort, biarkan texture natural menjadi fokus. Medium effort cukup dengan blow pada bagian depan. High effort bisa menambah roller atau curling iron untuk mempertegas layer di seluruh kepala.

Kalau suatu hari ingin mengubah layer menjadi gaya formal, bagian depan yang lebih pendek masih bisa menjadi detail yang sengaja dibiarkan keluar. Face-framing seperti ini membantu hairstyle terasa lebih lembut dan tidak terlalu kaku, terutama saat bagian belakang rambut diikat atau dinaikkan.

Cara Merawat Butterfly Cut dan Kapan Perlu Trimming

Soft butterfly cut dari Jacob Sirriano ini bisa menjadi patokan visual saat mengecek grow-out: layer tetap terlihat terhubung, ringan, dan tidak kehilangan framing di sekitar wajah.

Perawatan butterfly cut berfokus pada dua hal: menjaga ujung tetap sehat dan mempertahankan posisi layer agar framing tidak turun terlalu jauh. Rutinitasnya tidak harus rumit, tetapi penggunaan alat panas berulang tanpa proteksi dapat membuat ujung layer cepat terlihat kering.

Menurut stylist yang diwawancarai Marie Claire, interval sekitar enam sampai delapan minggu dapat membantu menjaga shape dan layer tetap defined. Angka ini bukan aturan mutlak. Kalau kamu suka hasil grow-out yang lebih panjang atau rambut tumbuh lebih lambat, jadwalnya bisa dibuat lebih fleksibel.

  • Gunakan conditioner sesuai kebutuhan. Fokuskan pada mid-length dan ends supaya layer tidak terasa kering, tetapi hindari formula terlalu berat jika rambut mudah lepek.
  • Kurangi panas yang tidak perlu. Kalau yang ingin ditata hanya face-framing, tidak ada alasan selalu memanaskan seluruh rambut.
  • Pantau bentuk layer depan. Saat framing sudah turun dan tidak lagi jatuh di titik yang kamu suka, itu biasanya sinyal lebih relevan daripada sekadar menghitung minggu.
  • Rapikan split ends. Ujung bercabang membuat layer terlihat frizzy dan kehilangan garis yang bersih, terutama pada finish blowout.

High maintenance atau tidak akhirnya tergantung finish yang kamu incar. Natural butterfly pada wavy hair bisa sangat santai, sedangkan versi super bouncy ala salon memang membutuhkan lebih banyak waktu. Jadi ukur maintenance berdasarkan gaya harianmu, bukan berdasarkan foto setelah blowout profesional.

Kelebihan dan Kekurangan Butterfly Cut Sebelum Mencobanya

Referensi dari Laced Hair Extensions ini relevan untuk melihat pentingnya density pada butterfly cut. Volume dan panjang yang cukup membuat layer terlihat penuh, sedangkan rambut yang sangat fine perlu teknik lebih konservatif.

Kelebihan butterfly cut ada pada movement dan fleksibilitasnya, sedangkan kekurangannya muncul ketika layer terlalu agresif atau tidak sesuai dengan rutinitas kamu. Potongan ini bisa terasa ringan dan flattering, tetapi bukan berarti satu pola layer otomatis cocok untuk semua orang.

Kelebihan

  • Memberi perubahan visual tanpa harus kehilangan banyak overall length.
  • Face-framing dapat disesuaikan dengan bentuk wajah.
  • Movement membantu rambut terasa lebih hidup daripada potongan blunt yang berat.
  • Bisa dipakai pada straight, wavy, curly, fine, maupun thick hair dengan penyesuaian.
  • Bisa terlihat polished saat blowout dan tetap wearable saat dibiarkan natural.
Kekurangan

  • Rambut fine dapat terlihat makin tipis jika terlalu banyak weight removal.
  • Signature bounce tidak selalu muncul tanpa styling, terutama pada rambut lurus yang mudah jatuh.
  • Layer pendek dapat keluar dari ponytail atau updo jika titik potong terlalu tinggi.
  • Hasil sangat bergantung pada placement layer, jadi konsultasi awal punya peran besar.
  • Shape perlu dirapikan saat framing sudah tumbuh dan kehilangan proporsinya.

Framework paling sederhana sebelum memutuskan adalah Face–Density–Texture–Styling Time. Lihat bentuk wajah untuk menentukan posisi frame, density untuk menentukan banyaknya layer, texture untuk memprediksi jatuhnya rambut, lalu styling time untuk menilai seberapa dramatis versi yang realistis buatmu. Empat hal itu lebih berguna daripada mengikuti satu foto viral.

Kesimpulan: Apakah Potongan Rambut Butterfly Cocok untuk Kamu?

Sebagai referensi akhir, Simon Webster Hair memperlihatkan butterfly cut dengan layer yang tetap soft dan wearable—contoh bagus untuk dibawa ke salon saat kamu sudah menentukan versi yang paling sesuai.

Gaya ini cocok kalau kamu ingin rambut terlihat lebih hidup, berlayer, dan punya movement tanpa kehilangan banyak panjang. Hasil paling aman datang dari penyesuaian: rambut fine membutuhkan layer yang lebih terkontrol, wajah bulat biasanya terbantu oleh framing yang lebih panjang, dan rambut curly perlu memperhitungkan shrinkage serta curl pattern.

Sebelum duduk di kursi salon, tentukan empat hal: panjang yang harus dipertahankan, posisi layer terpendek, seberapa kuat face-framing yang diinginkan, dan seberapa banyak waktu yang rela kamu pakai untuk styling. Bawa foto yang kondisi rambutnya mendekati rambutmu. Itu membuat konsultasi jauh lebih jelas daripada hanya menyebut nama haircut.

Kalau nantinya kamu ingin melihat bagaimana layer depan tetap bisa bekerja saat rambut ditata untuk acara formal, referensi sanggul modern bisa jadi bacaan lanjut. Pilihan yang bagus bukan yang paling viral, tetapi yang tetap terasa seperti dirimu setelah efek blowout salon hilang.